Kepalaku pusing. Panas, sampai-sampai aku merasa mataku akan melompat keluar. Satu, dua, tiga…, kuhitungi lampu-lampu neon yang berderet di atasku dan baru saja kulalui. Aku mendengar roda menggelinding cepat di atas lantai yang aku yakin sekali, pasti baru saja di-pel dengan karbol beraroma hutan pinus. Dan aku juga mendengar tangisan disekelilingku.
Kekasihku, Desak namanya, masih mengemudikan motornya. Kencang sekali. Bahkan aku berpikir ini terlalu kencang dan diluar kendali. Kalau saja ini bukan malam, tentu polisi akan mengejarnya dan menangkap kami. Tapi aku sama sekali tidak khawatir. Karena aku tahu, Desak pasti tidak akan mencelakaiku. Maka, aku duduk tenang di belakangnya. Memeluknya.
Pangalengan tempat favorit aku dan Desak. Setiap aku sedih, Desak selalu membawaku ke sini. Katanya, suasana yang tenang dari bukit teh, bisa membuat siapa saja yang berada di sini menjadi ikut tenang juga. Tapi saat ini aku tidak merasa sedih sedikit pun. Apalagi rasa sakit yang kualami beberapa jam yang lalu sudah hilang. Mungkin Desak yang sedang sedih. Tapi kenapa? Apa yang membuat Desak sedih? Kenapa aku tidak tahu apa yang sedang dialami oleh kekasihku? Tapi, sesampainya di tempat yang kami tuju, aku pasti akan menanyakan hal yang membuat kekasihku sedih.
Desak mem-parkirkan motor di pinggir jalan, tepat di samping deretan berhektar-hektar kebun teh. Dia berlari, kencang sekali. Aku tak mampu mengejarnya. Dia menuju bukit teh. Ada apa? Dan kenapa dia meninggalkan aku? Padahal dia tahu tubuhnya tinggi, itu artinya langkahnya pasti lebar, dan tentu saja aku tidak akan bisa mengejarnya.
Akhirnya berhenti juga. Desak berhenti tepat di atas batu yang terletak di puncak bukit teh. Dia duduk, melamun. Sesaat setelah aku sampai di puncak bukit teh, aku ikut duduk di sampingnya. Aku bertanya, “Kenapa diam saja?” tapi dia tetap tak bergeming. Tetap melamun dan terus memandangi langit hitam penuh bintang. Bintang yang tetap sama setiap aku datang ke tempat ini. Berhamburan dan terus menyala terang. Bintang-bintang tetap bersinar meskipun perasaan Desak saat ini pasti sedang penuh dengan kesedihan. Sudahlah, mungkin Desak memang ingin seperti ini. Mungkin dengan begini, dia merasa nyaman.
“Sayang, lihat bintang jatuh itu! Ayo, buat permintaan!”
Tetap saja Desak diam. Tapi, aku melihat ada sesuatu yang berkilau di pipinya. Apa itu? Ya Tuhan…, air mata. Desak menangis. Kenapa? Dan untuk siapa dia menangis?
“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak membuat permintaan? Jika kau ada masalah, buatlah permintaan pada bintang jatuh agar masalahmu dapat segera terselesaikan. Aku mohon, jangan menangis dihadapanku. Bukankah kau sendiri yang pernah bilang padaku, jika kita sedih dan memiliki masalah, datanglah ke tempat ini. Lalu buat permintaan pada bintang jatuh. Maka masalahmu akan terselesaikan dan permintaanmu juga akan terkabul. Ayo, buat permintaan. Pejamkan matamu, Sayang.”
“Andai kau tahu betapa aku juga merasa kesakitan ketika harus melihatmu kesakitan, Sayang.” Desak mengatakan sesuatu tanpa sedikit pun melihat ke arahku. Dia terus memandangi bintang jatuh, dan membiarkan bintang itu menghilang tanpa membuat satu permintaan pun.
“Desak, aku tahu hal itu. Tapi sungguh, kau tidak usah terlalu khawatir. Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat aku sekarang, aku bahagia. Rasa sakit sehebat apapun, jika aku ada di dekatmu pasti tidak akan terasa begitu sakit. Lagi pula, saat ini aku baik-baik saja. Bahkan aku bisa menemanimu ke Pangalengan dan duduk di sampingmu.”
Aku mendengar ponsel Desak berbunyi. Kemudian Desak mengambil ponsel dari kantong jaketnya. Dia menjawab panggilan, entah dari siapa. Yang jelas, sesaat setelah Desak menerima panggilan itu, dia menjadi semakin tak kukenal. Wajahnya penuh dengan kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan.
Desak melihat ke arahku dengan pandangan kosong, kemudian dia berkata, “Aku ingin kita bisa terus seperti dulu. Duduk berdua di tempat ini, tanpa ada yang lain. Tanpa ada sedikit pun rasa sakit di tubuhmu, Sayang. Seandainya kita bisa”.
“Dengar Sayang, rasa sakit itu sudah hilang. Sudah tidak ada. Dan aku yakin, kita bisa terus berdua seperti ini, seperti dulu. Selamanya.”
“Ya, seandainya kita bisa seperti dulu. Selamanya.” Ucap Desak masih dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba Desak bangkit dari duduknya. Perlahan menuruni bukit sambil sedikit membelai pucuk-pucuk daun teh yang terbalut embun dan kabut. Dan aku juga meniru gerakan yang dilakukan Desak.
Desak berjalan menuju motornya. Menghidupkan mesinnya. Dan pulang. Ya, aku yakin dia akan membawaku pulang. Tentu saja. Jalan yang sekarang kami lewati memang menuju Jakarta. Dan aku masih duduk di belakangnya, dan masih bingung.
“Desak, untuk apa kita ke tempat ini?”
Tanpa menjawab pertanyaanku, kekasihku melangkah masuk ke dalam kamar dan menghampiri salah satu mayat. Desak berdiri tanpa membuat gerakan sedikit pun. Mungkin dia khawatir akan menganggu tidur abadi mayat itu.
Diraihnya tangan kaku seorang gadis yang terbaring pucat di antara belasan mayat lain. Dan wajah gadis itu mirip denganku. Siapa dia? Kasihan. Semuda itu harus mati. Ya, mati. Dan sekarang gadis itu membuat Desak menangis. Siapa gadis yang bisa membuat Desak menangis? Kenapa aku tak pernah tahu siapa gadis itu sebelumnya? Kenapa Desak tidak pernah menceritakannya padaku? Kali ini aku benar-benar kecewa pada kekasihku. Padahal, beberapa waktu yang lalu, dia baru saja mengatakan bahwa dia ingin terus berada di dekatku, selamanya. Dan terus melihat bintang jatuh dari atas bukit teh sambil membuat permintaan.
Aku menghampiri Kent, dan bertanya padanya tentang apa yang sedang terjadi, “Hei, Kent. Ada apa? Kenapa mami ikut menangis?”
Kent sama sekali tidak menjawab. Adik laki-laki-ku itu justru pergi mejauh dariku dan menghampiri mami yang tak berhenti menangis.
Beberapa menit setelah itu, semua orang pergi. Termasuk papi, mami yang masih terus menangis, juga Kent. Hanya Desak dan aku yang masih tinggal. Dan saat ini aku masih berdiri di belakang punggung Desak.
“Desak, beritahu aku siapa gadis di kamar mayat tadi? Apa dia kekasihmu yang lain? Desak kumohon, beritahu aku. Meskipun gadis itu telah meninggal, tapi setidaknya dia pasti pernah berarti untukmu, ya, kan?”
“Kau sangat berarti untukku.” Bisik Desak masih berdiri sambil memegangi seikat bunga krisan putih – bunga kesukaanku – yang diikat dengan pita kuning –juga warna kesukaanku. Kemudian dengan gerakan lembut dia meletakkan bunganya di atas gundukan tanah tempat gadis itu dimakamkan. Dan aku mendengar Desak berbisik, “Tenanglah dalam tidur abadimu…,“ kemudian Desak pun ikut pergi.
Aku menyaksikan Desak berjalan meninggalkan makam gadis itu. Aku bingung dan tidak mengerti dengan semua yang dilakukan kekasihku. Lalu aku menyusulnya dan berniat melanjutkan pembicaraan kami yang terputus.
“Aku tahu, aku sangat berarti untukmu. Kau juga sangat berarti untukku. Tapi kau merahasiakan tentang gadis itu padaku. Dan kenapa harus krisan putih dengan diikat pita kuning yang kau berikan sebagai tanda perpisahan terakhir pada gadis itu? Padahal kau tahu, bunga dan warna pita itu semuanya kesukaanku. Kenapa kau samakan aku dengan gadis itu?”
“Percayalah, hanya kau yang paling berarti.” Ucap Desak sambil terus berjalan dengan wajah muram dan hampir menangis.
Dia memang mengatakan bahwa aku yang paling berarti. Tapi ada gadis lain yang dia tangisi. Dan setahuku, dia tidak mempunyai saudara perempuan
Aku penasaran. Siapa gadis itu? Aku melangkah meninggalkan Desak. Aku begitu ingin tahu gadis yang mampu membuat Desak menangis, dan sama sekali tidak mempedulikan keberadaanku sejak kami masih duduk di puncak bukit teh, Pangalengan. Dan aku juga ingin tahu, kenapa tadi begitu banyak orang yang merasa kehilangan hingga menyempatkan diri untuk datang ke pemakaman gadis itu, termasuk papi, mami, dan Kent-adikku. Sugguh hebat gadis itu.
Aku melihat sebuah nama terukir halus dia atas sebuah batu nisan yang masih mengkilap.
Rebecca Aurora
27 Juli 1982 - 12 Desember 2006
Aku kenal nama itu. Itu namaku. Itu tanggal lahirku. Dan… sekarang tanggal berapa? Tanggal berapa? Tuhan…, sekarang aku hanya arwah. Ternyata aku arwah. Dan mereka semua menghadiri pemakamanku. Tapi aku tidak merasa aku sedang tidur. Aku hidup, aku baik-baik saja.
“Desak! Tunggu aku! Kau harus menjelaskan semua ini. Apa yang terjadi padaku?”, aku berlari mengejar kekasihku yang kini berjalan menuju motornya. Tapi dia tetap terus berjalan. Kenapa? Dia diam karena sedih, atau dia memang tidak bisa mendengarku?
“Desak kumohon, dengar aku. Sebentar saja. Sebentar saja, kalau kau tidak bisa menjelaskan semua ini, tolong beri aku kesempatan untuk berbicara. Aku hanya ingin bertanya, apa gundukan tanah di sana adalah makamku?”
Sama sekali tidak ada jawaban dari mulut kekasihku. Aku tidak mau begini. Aku sendiri disini. Kenapa tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan padaku, apa yang terjadi?
Tidak ada jalan lain. Tidak ada alasan bagiku untuk ikut pulang bersama Desak. Dan seperti permintaan kekasihku, aku akan tidur dengan tenang dalam tidur abadiku. Meskipun aku tak pernah merasa kalau aku sedang tidur. Akhirnya, aku harus tetap kembali ke pusaraku. Tempat aku tidur abadi, selamanya. Aku tahu, ini pasti nisanku.
~
Aneh. Hanya itu yang aku rasakan. Beberapa jam yang lalu aku merasa kalau mati akan lebih baik untukku. Tapi sekarang, aku merasa jauh lebih baik. Bahkan mungkin, aku pasti akan sangat menyesal jika beberapa jam yang lalu aku benar-benar mati. Karena saat ini aku berada didekat kekasihku.Kekasihku, Desak namanya, masih mengemudikan motornya. Kencang sekali. Bahkan aku berpikir ini terlalu kencang dan diluar kendali. Kalau saja ini bukan malam, tentu polisi akan mengejarnya dan menangkap kami. Tapi aku sama sekali tidak khawatir. Karena aku tahu, Desak pasti tidak akan mencelakaiku. Maka, aku duduk tenang di belakangnya. Memeluknya.
~
Pasti Pangalengan. Desak pasti membawaku ke Pangalengan. Mungkin dia ingin menunjukkan betapa indahnya langit malam Bandung Selatan bila di lihat dari bukit teh. Apalagi bintangnya yang bertaburan, dekat sekali. Bahkan, kalau aku punya tangga yang cukup tinggi mungkin aku bisa meraih bintang itu. Dan percaya tidak? Apabila menjelang subuh, pasti banyak bintang jatuh.Pangalengan tempat favorit aku dan Desak. Setiap aku sedih, Desak selalu membawaku ke sini. Katanya, suasana yang tenang dari bukit teh, bisa membuat siapa saja yang berada di sini menjadi ikut tenang juga. Tapi saat ini aku tidak merasa sedih sedikit pun. Apalagi rasa sakit yang kualami beberapa jam yang lalu sudah hilang. Mungkin Desak yang sedang sedih. Tapi kenapa? Apa yang membuat Desak sedih? Kenapa aku tidak tahu apa yang sedang dialami oleh kekasihku? Tapi, sesampainya di tempat yang kami tuju, aku pasti akan menanyakan hal yang membuat kekasihku sedih.
~
Pemandangan malam hari di sekitar Pangalengan lumayan seram. Hampir semua tempat gelap karena penerangan yang ada sangat terbatas. Tapi penerangan alami dari bulan yang sedang bersinar terang juga lumayan.Desak mem-parkirkan motor di pinggir jalan, tepat di samping deretan berhektar-hektar kebun teh. Dia berlari, kencang sekali. Aku tak mampu mengejarnya. Dia menuju bukit teh. Ada apa? Dan kenapa dia meninggalkan aku? Padahal dia tahu tubuhnya tinggi, itu artinya langkahnya pasti lebar, dan tentu saja aku tidak akan bisa mengejarnya.
Akhirnya berhenti juga. Desak berhenti tepat di atas batu yang terletak di puncak bukit teh. Dia duduk, melamun. Sesaat setelah aku sampai di puncak bukit teh, aku ikut duduk di sampingnya. Aku bertanya, “Kenapa diam saja?” tapi dia tetap tak bergeming. Tetap melamun dan terus memandangi langit hitam penuh bintang. Bintang yang tetap sama setiap aku datang ke tempat ini. Berhamburan dan terus menyala terang. Bintang-bintang tetap bersinar meskipun perasaan Desak saat ini pasti sedang penuh dengan kesedihan. Sudahlah, mungkin Desak memang ingin seperti ini. Mungkin dengan begini, dia merasa nyaman.
~
Sudah subuh. Pasti sudah subuh. Sudah berjam-jam kami duduk di atas batu yang terletak tepat di puncak bukit teh. Aku tidak sabar lagi. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada kekasihku. Tapi mungkin, aku harus mencari cara lain. Setidaknya, aku hanya ingin dia berbicara, meskipun tentang hal yang tidak penting sekali pun. Oh, ada bintang jatuh! Desak suka bintang jatuh. Setiap ada bintang jatuh, Desak selalu mengajariku untuk membuat permintaan. Tapi kali ini, aku yang akan meminta Desak untuk membuat permintaan.“Sayang, lihat bintang jatuh itu! Ayo, buat permintaan!”
Tetap saja Desak diam. Tapi, aku melihat ada sesuatu yang berkilau di pipinya. Apa itu? Ya Tuhan…, air mata. Desak menangis. Kenapa? Dan untuk siapa dia menangis?
“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak membuat permintaan? Jika kau ada masalah, buatlah permintaan pada bintang jatuh agar masalahmu dapat segera terselesaikan. Aku mohon, jangan menangis dihadapanku. Bukankah kau sendiri yang pernah bilang padaku, jika kita sedih dan memiliki masalah, datanglah ke tempat ini. Lalu buat permintaan pada bintang jatuh. Maka masalahmu akan terselesaikan dan permintaanmu juga akan terkabul. Ayo, buat permintaan. Pejamkan matamu, Sayang.”
“Andai kau tahu betapa aku juga merasa kesakitan ketika harus melihatmu kesakitan, Sayang.” Desak mengatakan sesuatu tanpa sedikit pun melihat ke arahku. Dia terus memandangi bintang jatuh, dan membiarkan bintang itu menghilang tanpa membuat satu permintaan pun.
“Desak, aku tahu hal itu. Tapi sungguh, kau tidak usah terlalu khawatir. Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat aku sekarang, aku bahagia. Rasa sakit sehebat apapun, jika aku ada di dekatmu pasti tidak akan terasa begitu sakit. Lagi pula, saat ini aku baik-baik saja. Bahkan aku bisa menemanimu ke Pangalengan dan duduk di sampingmu.”
Aku mendengar ponsel Desak berbunyi. Kemudian Desak mengambil ponsel dari kantong jaketnya. Dia menjawab panggilan, entah dari siapa. Yang jelas, sesaat setelah Desak menerima panggilan itu, dia menjadi semakin tak kukenal. Wajahnya penuh dengan kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan.
Desak melihat ke arahku dengan pandangan kosong, kemudian dia berkata, “Aku ingin kita bisa terus seperti dulu. Duduk berdua di tempat ini, tanpa ada yang lain. Tanpa ada sedikit pun rasa sakit di tubuhmu, Sayang. Seandainya kita bisa”.
“Dengar Sayang, rasa sakit itu sudah hilang. Sudah tidak ada. Dan aku yakin, kita bisa terus berdua seperti ini, seperti dulu. Selamanya.”
“Ya, seandainya kita bisa seperti dulu. Selamanya.” Ucap Desak masih dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba Desak bangkit dari duduknya. Perlahan menuruni bukit sambil sedikit membelai pucuk-pucuk daun teh yang terbalut embun dan kabut. Dan aku juga meniru gerakan yang dilakukan Desak.
Desak berjalan menuju motornya. Menghidupkan mesinnya. Dan pulang. Ya, aku yakin dia akan membawaku pulang. Tentu saja. Jalan yang sekarang kami lewati memang menuju Jakarta. Dan aku masih duduk di belakangnya, dan masih bingung.
~
KAMAR MAYAT. Aku melihat Desak begitu terburu-buru menuju kamar mayat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Desak berdiri di bibir pintu kamar dingin itu.“Desak, untuk apa kita ke tempat ini?”
Tanpa menjawab pertanyaanku, kekasihku melangkah masuk ke dalam kamar dan menghampiri salah satu mayat. Desak berdiri tanpa membuat gerakan sedikit pun. Mungkin dia khawatir akan menganggu tidur abadi mayat itu.
Diraihnya tangan kaku seorang gadis yang terbaring pucat di antara belasan mayat lain. Dan wajah gadis itu mirip denganku. Siapa dia? Kasihan. Semuda itu harus mati. Ya, mati. Dan sekarang gadis itu membuat Desak menangis. Siapa gadis yang bisa membuat Desak menangis? Kenapa aku tak pernah tahu siapa gadis itu sebelumnya? Kenapa Desak tidak pernah menceritakannya padaku? Kali ini aku benar-benar kecewa pada kekasihku. Padahal, beberapa waktu yang lalu, dia baru saja mengatakan bahwa dia ingin terus berada di dekatku, selamanya. Dan terus melihat bintang jatuh dari atas bukit teh sambil membuat permintaan.
~
PEMAKAMAN UMUM. Semua orang mengenakan pakaian hitam. Hanya aku yang mengenakan pakaian putih. Aku melihat papi, mami, dan Kent-adikku menangis. Sebenarnya siapa yang mereka tangisi?Aku menghampiri Kent, dan bertanya padanya tentang apa yang sedang terjadi, “Hei, Kent. Ada apa? Kenapa mami ikut menangis?”
Kent sama sekali tidak menjawab. Adik laki-laki-ku itu justru pergi mejauh dariku dan menghampiri mami yang tak berhenti menangis.
Beberapa menit setelah itu, semua orang pergi. Termasuk papi, mami yang masih terus menangis, juga Kent. Hanya Desak dan aku yang masih tinggal. Dan saat ini aku masih berdiri di belakang punggung Desak.
“Desak, beritahu aku siapa gadis di kamar mayat tadi? Apa dia kekasihmu yang lain? Desak kumohon, beritahu aku. Meskipun gadis itu telah meninggal, tapi setidaknya dia pasti pernah berarti untukmu, ya, kan?”
“Kau sangat berarti untukku.” Bisik Desak masih berdiri sambil memegangi seikat bunga krisan putih – bunga kesukaanku – yang diikat dengan pita kuning –juga warna kesukaanku. Kemudian dengan gerakan lembut dia meletakkan bunganya di atas gundukan tanah tempat gadis itu dimakamkan. Dan aku mendengar Desak berbisik, “Tenanglah dalam tidur abadimu…,“ kemudian Desak pun ikut pergi.
Aku menyaksikan Desak berjalan meninggalkan makam gadis itu. Aku bingung dan tidak mengerti dengan semua yang dilakukan kekasihku. Lalu aku menyusulnya dan berniat melanjutkan pembicaraan kami yang terputus.
“Aku tahu, aku sangat berarti untukmu. Kau juga sangat berarti untukku. Tapi kau merahasiakan tentang gadis itu padaku. Dan kenapa harus krisan putih dengan diikat pita kuning yang kau berikan sebagai tanda perpisahan terakhir pada gadis itu? Padahal kau tahu, bunga dan warna pita itu semuanya kesukaanku. Kenapa kau samakan aku dengan gadis itu?”
“Percayalah, hanya kau yang paling berarti.” Ucap Desak sambil terus berjalan dengan wajah muram dan hampir menangis.
Dia memang mengatakan bahwa aku yang paling berarti. Tapi ada gadis lain yang dia tangisi. Dan setahuku, dia tidak mempunyai saudara perempuan
Aku penasaran. Siapa gadis itu? Aku melangkah meninggalkan Desak. Aku begitu ingin tahu gadis yang mampu membuat Desak menangis, dan sama sekali tidak mempedulikan keberadaanku sejak kami masih duduk di puncak bukit teh, Pangalengan. Dan aku juga ingin tahu, kenapa tadi begitu banyak orang yang merasa kehilangan hingga menyempatkan diri untuk datang ke pemakaman gadis itu, termasuk papi, mami, dan Kent-adikku. Sugguh hebat gadis itu.
Aku melihat sebuah nama terukir halus dia atas sebuah batu nisan yang masih mengkilap.
Rebecca Aurora
27 Juli 1982 - 12 Desember 2006
Aku kenal nama itu. Itu namaku. Itu tanggal lahirku. Dan… sekarang tanggal berapa? Tanggal berapa? Tuhan…, sekarang aku hanya arwah. Ternyata aku arwah. Dan mereka semua menghadiri pemakamanku. Tapi aku tidak merasa aku sedang tidur. Aku hidup, aku baik-baik saja.
“Desak! Tunggu aku! Kau harus menjelaskan semua ini. Apa yang terjadi padaku?”, aku berlari mengejar kekasihku yang kini berjalan menuju motornya. Tapi dia tetap terus berjalan. Kenapa? Dia diam karena sedih, atau dia memang tidak bisa mendengarku?
“Desak kumohon, dengar aku. Sebentar saja. Sebentar saja, kalau kau tidak bisa menjelaskan semua ini, tolong beri aku kesempatan untuk berbicara. Aku hanya ingin bertanya, apa gundukan tanah di sana adalah makamku?”
Sama sekali tidak ada jawaban dari mulut kekasihku. Aku tidak mau begini. Aku sendiri disini. Kenapa tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan padaku, apa yang terjadi?
Tidak ada jalan lain. Tidak ada alasan bagiku untuk ikut pulang bersama Desak. Dan seperti permintaan kekasihku, aku akan tidur dengan tenang dalam tidur abadiku. Meskipun aku tak pernah merasa kalau aku sedang tidur. Akhirnya, aku harus tetap kembali ke pusaraku. Tempat aku tidur abadi, selamanya. Aku tahu, ini pasti nisanku.
~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar