Selasa, 25 Mei 2010

Pepes Ikan Mas

Masih diam memandangi gadis pujaannya. Tersenyum sendiri dan kadang mengerutkan kening, bahkan ikut meringis apabila melihat gadisnya terluka barang sedikit. Seolah-olah dia sendiri yang mengalaminya. Jika sedang memperhatikan si gadis dari kejauhan, dia sama sekali tak ingat dengan sekitarnya. Aneh.
~
Sejak kedatangan si Gadis beberapa minggu yang lalu, Choki jadi sering melamun. Apalagi jika dia tidak bisa melihat si Gadis sekali pun dalam satu hari.
Gadis adalah cucu Nenek Yani pemilik rumah di seberang jalan. Gadis baru saja lulus sekolah menengah atas dan berencana akan kuliah di Bandung. Untuk itu, Gadis pindah ke rumah Nenek Yani.
~
Gadis membuat Choki memiliki kebiasaan baru. Kebiasaannya yaitu mondar-mandir mencari perhatian si Gadis. Dan beruntungnya, si Gadis juga terlihat menyukai Choki. Bahkan, si Gadis sering mendatangi rumah kami hanya sekedar untuk menemui Choki dan menanyakan kabarnya.
Apabila si Gadis berkunjung ke rumah, Choki pasti langsung pasang aksi seolah-olah dia adalah pria paling jantan diantara pria-pria lainnya. Dia juga tidak lupa menunjukkan kekekaran ototnya. Ya, meskipun kulit Choki agak hitam, tapi kalau di pikir-pikir dia manis juga.
~
“Choki, sudahlah. Jangan kau terus memandangi si Gadis. Nanti matamu bisa lepas dari tempatnya.” Itu kalimat yang selalu kuucapkan pada Choki setiap aku menemuinya. Jelas saja. Setiap menit, setiap jam, bahkan setiap hari semenjak kedatangan si Gadis, Choki jadi tidak punya pekerjaan lain selain memelototi si Gadis.
Setiap hari selalu memuji setiap gerak-gerik gadis pujaannya. Apapun yang dilakukan si Gadis, dia selalu memujinya dengan penuh kesungguhan. Terlebih lagi, jika mengingat keadaan mereka yang jauh berbeda.
~
“Choki, kesini.” Sapa si Gadis ramah pada Choki pagi ini. Terang saja, Choki langsung menghampiri si Gadis dengan lagak sok perkasa. Kemudian si Gadis memberinya makan, makanan kesukaan Choki. Tentu saja Choki makan dengan lahap. Meski menurutku dia agak malu-malu. Dan menurutku lagi, Choki sama sekali tidak memperhatikan makanan yang dibawa si Gadis. Bahkan mungkin, jika Choki disuapi katak, dia pasti tidak akan menyadarinya. Karena Choki justru memperhatikan wajah si Gadis yang sangat cantik. Tentu saja, jika dibandingkan dengan gadis-gadis sekampung, si Gadis memang paling cantik.
Saat si Gadis sedang asik menemani Choki makan, Nenek Yani yang telah mengenakan pakaian terbaiknya dan bersiap-siap akan pergi, berpamitan pada si Gadis.
“Gadis! Nenek pergi dulu. Nanti mau dibawakan apa?” Tanya nenek si Gadis.
“Gadis ingin pepes ikan mas, Nek.” Jawab si Gadis yang masih menemani Choki makan.
“Ya sudah, nanti Nenek beli-kan. Nenek pergi dulu. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…, hati-hati ya, Nek!” Pesan si Gadis pada Neneknya yang masih terlihat cantik dan segar di usianya yang hampir tujuh puluh tahun.
Nenek Yani memang nenek yang baik. Andai aku punya nenek sebaik itu. Tapi jangankan nenek. Ibuku saja aku tidak mengenalnya. Bahkan aku belum pernah melihatnya sekali pun. Tapi sudahlah. Aku justru ingin tertawa melihat Choki tersedak ketika mendengar si Gadis minta dibawakan oleh-oleh pepes ikan mas.
~
Selesai menemani Choki makan, si Gadis lalu pergi. Dan Choki masih seperti biasa. Dengan penuh kekaguman, dia terus memandangi si Gadis yang kini sudah masuk ke dalam rumahnya.
“Kira-kira, nenek si Gadis akan membawakan pepes ikan tidak?” Choki bertanya padaku dengan tanpa melihat ke arahku sedikit pun.
“Ya…, mungkin saja. Memangnya kenapa?” Tanyaku.
Choki sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Dia masih tetap memandangi si Gadis dengan penuh rasa sayang. Sampai tanpa pernah kusangka sebelumnya, Choki tiba-tiba berkata ngelantur, “Mungkin enak ya, kalau salah satu bagian tubuhku ada di dalam mulut si Gadis. Kemudian dia merasakan betapa nikmatnya tubuhku, sambil menciumi harumnya aroma tubuhku. Wah…,”.
~
“Yah Nenek, Gadis kan suka banget sama pepes ikan mas. Kenapa Nenek bisa lupa?” Tanya Gadis kecewa, ketika tahu neneknya pulang tanpa membawa oleh-oleh yang dia inginkan.
“Maaf. Namanya juga nenek-nenek, pelupa. Tapi Gadis jangan cemberut seperti itu dong. Nanti Nenek buatkan yang lebih enak. Buatan sendiri pasti lebih enak daripada beli. Tuh, lihat kolam ikan di seberang rumah kita. Ikannya besar-besar. Asal Gadis tahu, ikan yang segar dan kita pancing langsung dari kolamnya, bisa menambah kualitas dari rasa pepes.”
Percakapan antara nenek dengan cucu itu bisa jelas kudengar setiap hari. Karena tempat tinggalku berada di seberang rumah mereka. Jaraknya pun tidak terlalu jauh. Jadi, apapun yang mereka bicarakan, dan hal-hal apa saja yang mereka kerjakan, aku bisa tahu.
~
“Tolong!! Tolong aku! Mereka menangkapku!”
Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Choki sebelum dia pergi dari rumah. Aku memang melihat Choki mengerang kesakitan, tapi kupikir saat itu Choki sedang main-main. Lagi pula saat itu aku sedang sibuk membersihkan rumah. Menurut teman-temanku yang lain, mereka melihat Choki meronta. Mencoba melepaskan diri. Dan mereka ingat sekali kalau saat itu wajah Choki sangat ketakutan. Entah apa yang terjadi saat ini pada Choki. Aku khawatir sekali. Dia adalah sahabatku satu-satunya dan paling baik.
Seandainya saat itu aku berada di dekat Choki, aku pasti akan menolongnya dengan sekuat tenaga agar Choki bisa selamat dan tetap berada di rumah. Aku sangat menyesalkan kejadian itu. Kenapa saat itu aku justru lebih peduli untuk membersihkan rumah daripada membantu Choki menyelamatkan diri. Padahal aku jelas-jelas melihat Choki minta tolong.
Entah ada dimana dia sekarang. Maaf, mungkin bahasaku kurang bagus. Tapi itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah Choki. Dimana dia? Aku sampai bingung mencarinya. Sudah kucari di sekeliling rumah kami, tapi aku tetap tidak menemukannya. Apa mungkin dia pergi untuk selamanya? Memangnya, dia tidak berhasil melarikan diri? Padahal, aku berharap sekali Choki bisa lolos. Apa yang terjadi padanya? Choki, maafkan aku.
~
Sudah semalaman aku mencari Choki. Tapi tetap tidak bertemu juga dengannya.
Ketika aku sedang bingung mencari tahu keberadaan Choki, aku melihat si Gadis malah sedang makan siang. Sama sekali tidak merasa kehilangan.
“Wah…, harumnya saja sudah membuat Gadis ngiler. Pasti rasanya juga enak. Cara nenek menyajikan pepes juga menarik.”
Pantas saja si Gadis tidak merasa kehilangan Choki, ingat juga tidak. Itu karena makanan kesukannya, pepes ikan mas, ada di hadapannya dan siap untuk disantap. Kemudian si Gadis menyuapkan secuil pepes ikan mas yang dibuatkan neneknya dan baru saja matang. Sepertinya memang enak. Tapi aku tidak bisa mencium harumnya. Meskipun rumahku berseberangan dengan rumah si Gadis, tapi kalau masalah aroma makanan, aku tidak bisa menciumnya.
“Ternyata ikan mas pilihan nenek tidak salah. Banyak dagingnya. Rasanya juga enak banget. Bumbunya juga pas. Lebih enak daripada beli. Nenek hebat, deh!”
“Tentu saja. Nenek ini sudah berpengalaman dalam hal masak-memasak. Kalau hanya memasak pepes ikan mas, itu sih kecil.” Kata nenek si Gadis sambil menjentikkan jarinya.
“Iya, deh. Percaya. Tapi Gadis juga hebat, kan? Gadis cuma butuh waktu beberapa menit untuk bisa menjaring ikan mas yang nenek pilih. Itu artinya, gadis juga punya bakat.”
“Bakat apa?” Tanya nenek si Gadis sambil duduk di kursi di samping Gadis dan ikut menemaninya makan.
“Gadis berbakat menjaring ikan dalam waktu yang singkat. Nggak semua orang bisa melakukan itu, Nek!”
Mereka tertawa bersama, sepertinya merka bahagia sekali. Apalagi Gadis, sepertinya pepes ikan mas memang makanan yang paling dia suka.
~
Si Gadis benar-benar menikmati pepes ikan mas itu. Dia benar-benar tidak ingat pada Choki. Padahal, selama ini hanya dia yang diingat Choki. Bahkan, Choki rela menghabiskan waktunya seharian hanya untuk melihat wajahnya saja dari kejauhan.
Kasihan Choki. Kalau saja dia tahu apa yang dilakukan si Gadis saat semua orang bingung mencarinya. Si Gadis bahkan tidak sekali pun menanyakannya. Tapi tunggu dulu, ikan mas itu berwarna hitam legam. Warnanya sangat kukenal. Kemarin pagi aku baru saja mendengar ikan mas itu meronta minta tolong agar dia dibebaskan saat jaring yang diayunkan si Gadis mengenainya. Aku yakin, itu pasti Choki.
~
Sedih, lagi-lagi aku kehilangan sahabat terbaikku. Tapi kenapa harus Choki? Padahal, baru saja dua hari yang lalu aku kehilangan Ramon, minggu lalu Susi, gadis idaman yang sudah lama ku-taksir. Dan hari ini…, Choki.
Tapi aku senang, setidaknya keinginan Choki untuk berada di dalam mulut si Gadis, tercapai juga. Choki… Choki, kalau kamu bisa melihat, saat ini si Gadis sedang menikmati tubuhmu dan menciumi harumnya aroma tubuhmu. Katanya, dagingmu enak. Tentu saja, karena kau adalah ikan mas itu.
Apa memang begini nasib kami? Memangnya siapa yang mau terlahir sebagai ikan mas? Tapi tunggu dulu, kalau begini terus, jangan-jangan besok giliran aku yang jadi pepes ikan mas. Tidak!!
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar