Selasa, 25 Mei 2010

Cerita Cinta Pendek

Di dunia ini ada banyak orang yang sering lupa bahwa ada hal-hal sederhana yang tidak bisa dilihat dengan mata. Melainkan dengan hati. Sayangnya, kau adalah bagian dari orang yang sering lupa.
~
Ada serpihan yang hilang. Tapi aku harus menegakkan wajahku. Aku siap untuk berdiri di atas senyum palsu sampai beberapa minggu ke depan. Aku lelah selalu kau jadikan alas kaki. Setidaknya, aku bisa berarti untuk orang lain. Meskipun itu baru mungkin. Aku lelah, terus-menerus mengemis hal bodoh bernama cinta darimu. Padahal sekali pun kau tak pernah menganggapku ada. Kecuali jika kau membutuhkan sesuatu dari aku. Apa hanya itu harga sebuah aku di matamu? Apa itu bayaran sebuah aku bagimu?
~
Kau bersikap seperti sekaleng minuman bersoda di sebuah super market. Sementara, selama ini kau terus-menerus melihatku seperti seonggok sisa nasi yang dibuang ke tempat sampah. Kau melihatku. Tapi bukan untuk mengagumi kekuatanku yang mampu bertahan di tempat sampah. Kau melihatku hanya untuk memastikan bahwa aku benar-benar sampah tak berguna, menjijikkan, dan jika sampai saat ini aku masih bisa bertahan, itu karena aku hidup dari rasa belas kasihan benda yang mau merendahkan dirinya sebagai tempat sampah. Bukan sebaliknya.
Tapi tahukah kau? Aku jauh lebih berharga ketika aku tidak melihatmu lagi sebagai sebuah kaleng minuman bersoda di supermarket. Tahu kenapa? Karena kau hanya kaleng, yang pada akhirnya akan berada di tempat yang sama seperti aku. Dan tahukah kau? Aku akan jauh lebih memberikan ruang kepada dia. Tahu kenapa? Karena, ketika dia mengais pada benda yang mau merendahkan dirinya bagi kaum-kaum seperti aku, maka aku jadi jauh lebih berharga. Karena dia akan menyisihkanmu, lalu memungutku. Kemudian dia tersenyum menatapku. Seakan aku adalah sebuah kehidupan baru bagi dia, bagi perut dia. Karena bagaimana pun, kaleng tak akan pernah mampu mengenyangkan perut dia.
Aku, meskipun aku sampah bagimu, tapi aku bisa membuat seorang dia bahagia. Walau hanya seorang dia saja.
Dan pada akhirnya akulah yang akan berdiri tegak. Akulah yang tersenyum. Senyum tulus. Bukan lagi senyum palsu yang kupaksakan ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu. Aku pasti bisa tertawa, suatu hari nanti. Pasti. Ini adalah yang terbaik bagiku, hari ini dan seterusnya. Karena ini bukan pilihanku, tapi jalan yang memang harus aku singkirkan.
~
Satu episode di hidupku berakhir di tanganmu melalui tanganku.
Terima kasih untuk cerita cinta pendek yang sempat kau percayakan padaku. Aku harus mundur. Karena, aku yakin aku akan jauh lebih baik tanpamu. Dengan begitu, aku tidak lagi hidup dengan cinta yang berasal dari rasa belas kasihan.
Kau harus memahami, bahwa cinta tidak sama dengan kasihan.
~
Sayang, tahukah kau? Aku ini perempuan. Selama ini aku sudah belajar untuk bisa menyentuh hatimu, tapi itu adalah pelajaran yang tidak mudah. Hingga akhirnya aku meyakinkan diriku sendiri untuk berhenti, sebelum kau sendiri yang mengalahkanku dan memaksaku untuk berhenti. Meskipun, aku masih bisa merasakan cinta. Meskipun, lukaku jauh lebih bisa kuraba daripada rasa cinta ini. Jadi, biar aku yang menghilang, karena aku memang sudah ingin pergi.
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar