Kau begitu sempurna. Tak ada satu pun yang pernah begitu berarti untukku. Setiap waktu, setiap aku punya kesempatan, tak pernah kulewatkan untuk mengukir namamu di hatiku dengan tinta ketulusan paling mewah yang pernah aku punya. Kau begitu sempurna. Sesempurna hujan yang begitu kusukai kala kemarau membuat banyak bunga menjadi tua sebelum waktunya. Kau begitu penuh keajaiban di mataku. Kau seperti hujan pertama.
Deru, nama yang tiba-tiba terdengar istimewa.
Kini sosok itu terlihat sempurna. Meski dalam angan saja. Deru, pernahkah terlintas untuk mencariku?
Deru, aku lelah selalu sendiri.
Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Ke setiap sudut ruangan tak berbatas yang kusinggahi. Tapi, Deru tak juga kutemukan.
Aku mencarimu. Percayakah aku selalu mencarimu?
Tapi aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak pernah mau memberiku satu keberuntungan. Satu saja keberuntungan untukku. Agar aku bisa menemukanmu. Agar aku bisa mengatakan sesuatu yang tak sempat kukatakan tiga tahun yang lalu.
Masih kuedarkan pandanganku setiap aku punya kesempatan untuk mencarimu.
Aku lelah memikirikanmu. Sementara aku tak pernah tahu apa kau juga memikirkan aku? Aku sudah tak punya kekuatan untuk berlari mengejarmu. Karena kau sudah terlalu jauh. Sementara aku tak pernah tahu ke mana arahmu berlari.
Setiap aku hampir berhasil, selalu ada hal lain yang membuatku ingat kembali.
“Tuhan, beri aku satu keberuntungan...”
Deru, itu adalah do’a yang selalu kupanjatkan agar aku bisa menemukanmu. Atau, sebuah do’a yang kupanjatkan agar aku benar-benar bisa melupakanmu.
Tuhan, kenapa Kau hanya menciptakan satu Deru untukku? Kenapa tidak Kau ciptakan dua, tiga, sepuluh, atau seratus Deru untukku? Tidakkah itu mudah bagi-Mu?
Tuhan, tidakkah selama ini Kau melihat? Hanya Deru yang mampu menatapku dengan pandangan teduh tanpa cela. Hanya dia yang mampu membuat aku ada dan berarti untuk orang lain. Meskipun hanya untuk satu orang. Untuk Deru.
Deru, kau begitu lembut. Begitu sempurna. Terkadang aku berpikir. Begitu adilnya Tuhan. Dia mampu menciptakan manusia yang penuh dengan kesempurnaan. Dan aku melihat kesempurnaan itu ada padamu, Deru. Dan Dia juga mampu menciptakan manusia yang penuh dengan kekurangan. Dan aku melihat kekurangan itu ada padaku.
Tapi itu membuatku bertanya? Kenapa Tuhan memisahkan kita?
Deru, jangan ikut menangis. Jika kau melihat saat ini aku menangis, itu karena aku marah. Aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan. Tuhan? Bukankah Dia telah begitu baik, karena telah mempertemukan aku denganmu?
Aku duduk di bawah terik matahari. Aku mencoba melihat langkah-langkah awan di langit. Awan-awan itu terlihat begitu bahagia. Berkejaran satu sama lain. Dan bila sempat, mereka berusaha untuk membentuk suatu objek dengan tubuh mereka yang terlihat lembut dari sini.
Apakah pernah terpikir oleh mereka jika hujan turun? Maka mereka akan terpisah. Entah dimana mereka akan jatuh. Tapi, mereka pasti akan membuat banyak orang yang menyukai hujan tersenyum. Seperti aku. Aku begitu menyukai hujan. Aku menyukai suasananya. Aku menyukai udaranya. Aku menyukai petirnya. Aku menyukai kilatan cahaya yang begitu tegas di langit. Aku begitu menyukai semua yang berhubungan dengan hujan.
Karena, itu semua mengingatkanku pada Deru. Dan itu membuatku sadar, bahwa aku pernah berarti untuk seseorang. Seseorang itu mampu menjadi hujan saat amarah menguasaiku. Seseorang itu mampu menjadi hujan saat aku menangis dengan sejuta air mata. Dia seperti hujan pertama.
Hari ini hujan. Dan aku teringat Deru. Mampukah aku menemukanmu dengan sisa kekuatanku?
Jadi buatlah aku sempurna, Tuhan. Ciptakanlah satu Deru lagi untukku. Karena itu yang mampu membuatku merasa sempurna. Aku tak peduli bagaimana buruknya aku di mata semua orang. Aku tak akan pernah mempedulikan lagi bagaimana cara orang menatapku. Tapi aku butuh Deru. Aku akan mampu melakukan segala hal jika Kau juga mau memberiku satu kesempatan untuk kembali memiliki Deru.
Aku berjalan. Aku masih mencari dimana keberuntunganku. Dimana?
Oh! Aku tahu! Tuhan, terima kasih. Terima kasih karena akhirnya Kau mau memberiku satu keberuntungan. Kau memberiku ide agar aku bisa menemukan Deru. Atau bahkan melupakannya sama sekali.
Saat ini aku akan mulai mencari. Jika aku tidak bisa menemukanmu hari ini. Besok aku pasti akan menemukan cara untuk melupakanmu.
Semuanya bungkam. Dingin. Seperti hujan yang mulai mengguyur kota Bandung yang begitu luas, hingga aku sama sekali tidak mampu untuk menemukan Deru.
Aku pergi meninggalkan kamarku yang mulai membuatku bosan. Kulawan hujan yang begitu deras menghujam setiap jengkal tubuhku. Kubiarkan bibirku membiru dan menggigil. Yang aku pedulikan saat ini adalah keberuntunganku. Aku yakin, hari ini aku pasti beruntung. Tuhan pasti tidak akan terus menghukumku.
Aku masih mencari.
“Tuhan, beri aku satu keberuntungan. Satu keberuntungan saja. Aku mohon...”
Akhirnya keberuntungan itu datang. Aku bisa menemukannya. Aku bisa menemukan sebuah tempat yang pasti mampu membuatku melupakan Deru.
Aku melihat sebuah sungai yang indah. Begitu lebar, dan airnya pun begitu deras. Aku mencoba mendekat. Kulangkahkan kakiku perlahan. Aku menangis.
Deru, jika suara hatiku tidak begitu jelas kau dengar, cobalah tutup matamu. Cobalah dengar sekali lagi.
Deru, aku lelah selalu sendiri. Tahukah kau, tidak ada yang mau menerima aku. Tidak ada orang yang mau melirik aku. Kalau pun mereka terlanjur melihatku, pasti hanya tatapan penuh cela yang kuterima.
Deru, aku berterima kasih. Meskipun aku tidak pernah bisa menemukanmu, tapi setidaknya kau membuatku sadar. Meskipun sebentar, namun pernah ada laki-laki yang mencintai kekuranganku.
Airnya begitu deras, tapi aku melihat ada ketenangan di sana.
Deru, dengarkan aku. Ini untuk terakhir kalinya. Jadi, dengarkan ini baik-baik. Dimana pun kau berada, aku mohon jangan pernah lupakan aku.
Deru, aku tidak pernah tahu keberadaanmu. Meskipun berulang kali aku berusaha mencarimu.
Tapi, jika di tempatmu yang sekarang kau telah menemukan berjuta keindahan melebihi semua keindahan yang pernah kau dapatkan saat kau masih bersamaku, maka jangan pernah kembali untukku.
Jika di tempatmu yang sekarang kau telah menemukan kedamaian, maka jangan pernah kembali untukku. Karena, selama ini aku hanya berharap bisa menemukanmu. Bukan berharap agar kau kembali untukku. Aku juga tidak akan pernah memintamu untuk kembali seandainya dalam pencarianku aku menemukanmu. Namun untukku, semuanya sudah cukup. Cukup untuk saat ini, besok, dan seterusnya.
Jadi, tolong aku Tuhan. Sekali ini saja.
Aku menjatuhkan tubuhku ke dalam sungai. Tekanan airnya membuat tubuhku sakit. Tapi aku merasa semua bebanku hilang.
Saat ini air sungai yang deras membuat tubuhku terlempar tak beraturan ke segala arah. Tapi aku masih bisa merasakan air hujan mengguyur bagian kepalaku. Tuhan, aku masih hidup.
Aku hilang keseimbangan. Aku tidak bisa merasakan apapun. Namun aku juga tidak berusaha untuk mencari perlindungan. Aku ingin semuanya selesai, saat ini.
Tuhan, aku bisa merasakan diriku terapung di atas air. Aku juga merasa aku lebih tenang sekarang. Tapi, kenapa perasaanku pada Deru tak berubah? Kenapa keinginanku untuk mencari Deru tidak ikut menghilang? Kenapa keinginanku agar aku benar-benar bisa melupakan Deru masih ada? Kenapa kematianku tidak membuat semuanya selesai?
Atau..., apa aku harus mati sekali lagi? Apa aku harus membunuh diriku sekali lagi? Tapi bagaimana caranya? Tuhan, beri tahu aku agar aku bisa benar-benar mati. Karena aku belum mati.
Kujatuhkan tubuhku ke dalam sungai. Tapi aku tidak merasakan hal-hal yang kurasakan saat pertama kali kujatuhkan tubuhku ke sungai. Aku juga masih merasakan semua yang kurasakan pada Deru. Tentang keinginanku untuk menemukannya. Dan ambisiku untuk melupakannya.
Tuhan, kenapa aku tak pernah beruntung? Kenapa hanya aku yang tak pernah Kau beri keberuntungan? Kenapa aku? Bahkan, Kau juga tidak memberiku kematian. Sebuah kematian.
Tiba-tiba aku mendengar suara benda terjatuh ke sungai. Aku menoleh. Tapi itu bukan benda. Ternyata ada orang yang mencoba bunuh diri. Siapa?
Aku harus menyelamatkannya. Tidak mungkin ada dua orang yang tidak beruntung hari ini.
Aku berlari, aku menjatuhkan tubuhku ke dalam sungai, sekali lagi. Aku berenang semampuku. Kucoba meraih tangan laki-laki yang mencoba bunuh diri. Dia mencoba menghindariku. Tapi aku lebih kuat. Aku berhasil membawanya ke darat.
Lalu aku mencoba untuk berdiri. Namun aku terpeleset. Aku melihat laki-laki itu mencoba meraih tanganku. Tapi dia tidak berhasil. Air sungai yang begitu deras membuat tubuhku hanyut lebih cepat dari sebelumnya.
Jelas. Jelas sekali aku melihat laki-laki itu menangis. Kenapa dia menangis? Tuhan..., laki-laki itu Deru! Kenapa dia menangis? Apa dia sudah tidak mendapatkan keberuntungan-Mu? Tuhan, dia adalah laki-laki yang aku cari selama ini. Tuhan..., bagaimana ini?
“DERUU...!!” aku memanggilnya.
Aku mendekatinya, aku mendengar dia berkata pada dirinya sendiri, “Ya, aku Deru. Aku yang kau cari...” kemudian dia kembali menangis.
Siapa Deru? Tuhan, kasihan sekali laki-laki itu. Kasihan, Deru.
Tuhan, beri dia keberuntungan. Seperti aku yang selalu merasa beruntung ketika Kau beri hujan. Dan saat ini pun kau kembali menurunkan hujan. Meskipun untuk kesekian kalinya, tapi aku merasa hujan kali ini seperti hujan pertama. Seperti laki-laki yang menangis itu. Aku merasa dia seperti hujan pertama.
~
“Deru...”, itu suara pertama yang kudengar dari bibirmu saat kau memperkenalkan sosokmu. Saat itu namamu terdengar sederhana. Saat itu sosokmu terlihat biasa.Deru, nama yang tiba-tiba terdengar istimewa.
Kini sosok itu terlihat sempurna. Meski dalam angan saja. Deru, pernahkah terlintas untuk mencariku?
Deru, aku lelah selalu sendiri.
~
Hari ini biasa saja. Hanya terik matahari yang semakin menjadi dan membuat kepalaku sedikit pusing.Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Ke setiap sudut ruangan tak berbatas yang kusinggahi. Tapi, Deru tak juga kutemukan.
~
Deru. Tiga tahun yang lalu kau selalu hadir di setiap jejak langkahku. Tiga tahun yang lalu kau selalu membuatku tertawa dengan segala hal yang setelah kupikir itu sama sekali tidak lucu.Aku mencarimu. Percayakah aku selalu mencarimu?
Tapi aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak pernah mau memberiku satu keberuntungan. Satu saja keberuntungan untukku. Agar aku bisa menemukanmu. Agar aku bisa mengatakan sesuatu yang tak sempat kukatakan tiga tahun yang lalu.
Masih kuedarkan pandanganku setiap aku punya kesempatan untuk mencarimu.
Aku lelah memikirikanmu. Sementara aku tak pernah tahu apa kau juga memikirkan aku? Aku sudah tak punya kekuatan untuk berlari mengejarmu. Karena kau sudah terlalu jauh. Sementara aku tak pernah tahu ke mana arahmu berlari.
~
Deru, kau harus percaya kalau aku telah berulang kali mencoba membuat diriku melupakanmu. Pernah kucoba untuk melupakan satu hal kecil tentangmu. Tapi aku gagal.Setiap aku hampir berhasil, selalu ada hal lain yang membuatku ingat kembali.
“Tuhan, beri aku satu keberuntungan...”
Deru, itu adalah do’a yang selalu kupanjatkan agar aku bisa menemukanmu. Atau, sebuah do’a yang kupanjatkan agar aku benar-benar bisa melupakanmu.
~
Tuhan, kenapa harus aku? Tuhan, tahukah Engkau begitu buruknya aku dimata orang-orang? Deru begitu sempurna. Sementara aku begitu penuh dengan kekurangan. Semua yang ada padaku tidak ada yang indah. Satu pun. Tuhan, tahukah Engkau bagaimana sakitnya aku ketika orang-orang menatapku dengan penuh cela?Tuhan, kenapa Kau hanya menciptakan satu Deru untukku? Kenapa tidak Kau ciptakan dua, tiga, sepuluh, atau seratus Deru untukku? Tidakkah itu mudah bagi-Mu?
Tuhan, tidakkah selama ini Kau melihat? Hanya Deru yang mampu menatapku dengan pandangan teduh tanpa cela. Hanya dia yang mampu membuat aku ada dan berarti untuk orang lain. Meskipun hanya untuk satu orang. Untuk Deru.
~
Aku berjalan lambat. Pohon tua di ujung jalan menjatuhkan puluhan daun kering ke udara. Sebagian tersentuh tanganku. Sebagian yang lain terinjak kakiku yang masih terus mencari keberadaan Deru.Deru, kau begitu lembut. Begitu sempurna. Terkadang aku berpikir. Begitu adilnya Tuhan. Dia mampu menciptakan manusia yang penuh dengan kesempurnaan. Dan aku melihat kesempurnaan itu ada padamu, Deru. Dan Dia juga mampu menciptakan manusia yang penuh dengan kekurangan. Dan aku melihat kekurangan itu ada padaku.
Tapi itu membuatku bertanya? Kenapa Tuhan memisahkan kita?
Deru, jangan ikut menangis. Jika kau melihat saat ini aku menangis, itu karena aku marah. Aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan. Tuhan? Bukankah Dia telah begitu baik, karena telah mempertemukan aku denganmu?
~
Terik matahari masih meraja hari ini. Dan aku masih belum bisa menemukanmu. Aku berjalan menundukkan kepalaku. Semua orang disekelilingku masih memandang jijik ke arahku. Bahkan, sebagian dari mereka mungkin akan lebih senang jika tidak bertemu denganku hari ini.Aku duduk di bawah terik matahari. Aku mencoba melihat langkah-langkah awan di langit. Awan-awan itu terlihat begitu bahagia. Berkejaran satu sama lain. Dan bila sempat, mereka berusaha untuk membentuk suatu objek dengan tubuh mereka yang terlihat lembut dari sini.
Apakah pernah terpikir oleh mereka jika hujan turun? Maka mereka akan terpisah. Entah dimana mereka akan jatuh. Tapi, mereka pasti akan membuat banyak orang yang menyukai hujan tersenyum. Seperti aku. Aku begitu menyukai hujan. Aku menyukai suasananya. Aku menyukai udaranya. Aku menyukai petirnya. Aku menyukai kilatan cahaya yang begitu tegas di langit. Aku begitu menyukai semua yang berhubungan dengan hujan.
Karena, itu semua mengingatkanku pada Deru. Dan itu membuatku sadar, bahwa aku pernah berarti untuk seseorang. Seseorang itu mampu menjadi hujan saat amarah menguasaiku. Seseorang itu mampu menjadi hujan saat aku menangis dengan sejuta air mata. Dia seperti hujan pertama.
~
Terima kasih Tuhan, akhirnya Kau turunkan hujan.Hari ini hujan. Dan aku teringat Deru. Mampukah aku menemukanmu dengan sisa kekuatanku?
~
Aku bernafas. Aku melihat. Aku manusia. Aku kembali berdo’a, “Tuhan, beri aku satu keberuntungan saja...” Karena aku yakin aku tidak ingin mati saat ini. Kau tahu begitu kecewanya aku akan diriku sendiri.Jadi buatlah aku sempurna, Tuhan. Ciptakanlah satu Deru lagi untukku. Karena itu yang mampu membuatku merasa sempurna. Aku tak peduli bagaimana buruknya aku di mata semua orang. Aku tak akan pernah mempedulikan lagi bagaimana cara orang menatapku. Tapi aku butuh Deru. Aku akan mampu melakukan segala hal jika Kau juga mau memberiku satu kesempatan untuk kembali memiliki Deru.
~
Hari ini masih biasa saja. Tapi ada harapan kecil yang kupegang saat ini. Aku berharap, keberuntungan itu akan datang hari ini. Aku berharap Tuhan akan membuatku beruntung hari ini. Setidaknya ada cara untukku agar aku bisa menemukan Deru, atau aku sama sekali bisa melupakannya.Aku berjalan. Aku masih mencari dimana keberuntunganku. Dimana?
Oh! Aku tahu! Tuhan, terima kasih. Terima kasih karena akhirnya Kau mau memberiku satu keberuntungan. Kau memberiku ide agar aku bisa menemukan Deru. Atau bahkan melupakannya sama sekali.
Saat ini aku akan mulai mencari. Jika aku tidak bisa menemukanmu hari ini. Besok aku pasti akan menemukan cara untuk melupakanmu.
~
Aku mencari ke setiap sudut. Ke setiap tempat yang biasa dikunjungi Deru. Aku bertanya pada semua orang, apakah mereka pernah melihat Deru?Semuanya bungkam. Dingin. Seperti hujan yang mulai mengguyur kota Bandung yang begitu luas, hingga aku sama sekali tidak mampu untuk menemukan Deru.
~
Seperti janjiku. Hari ini aku akan mengakhiri semuanya. Semuanya.Aku pergi meninggalkan kamarku yang mulai membuatku bosan. Kulawan hujan yang begitu deras menghujam setiap jengkal tubuhku. Kubiarkan bibirku membiru dan menggigil. Yang aku pedulikan saat ini adalah keberuntunganku. Aku yakin, hari ini aku pasti beruntung. Tuhan pasti tidak akan terus menghukumku.
Aku masih mencari.
“Tuhan, beri aku satu keberuntungan. Satu keberuntungan saja. Aku mohon...”
Akhirnya keberuntungan itu datang. Aku bisa menemukannya. Aku bisa menemukan sebuah tempat yang pasti mampu membuatku melupakan Deru.
Aku melihat sebuah sungai yang indah. Begitu lebar, dan airnya pun begitu deras. Aku mencoba mendekat. Kulangkahkan kakiku perlahan. Aku menangis.
~
Deru, jika kau mampu mendengarku, maka dengarkanlah aku. Ada sesuatu yang belum sempat aku ucapkan tiga tahun yang lalu.Deru, jika suara hatiku tidak begitu jelas kau dengar, cobalah tutup matamu. Cobalah dengar sekali lagi.
Deru, aku lelah selalu sendiri. Tahukah kau, tidak ada yang mau menerima aku. Tidak ada orang yang mau melirik aku. Kalau pun mereka terlanjur melihatku, pasti hanya tatapan penuh cela yang kuterima.
Deru, aku berterima kasih. Meskipun aku tidak pernah bisa menemukanmu, tapi setidaknya kau membuatku sadar. Meskipun sebentar, namun pernah ada laki-laki yang mencintai kekuranganku.
~
Aku semakin mendekati sungai. Langkahku semakin lambat.Airnya begitu deras, tapi aku melihat ada ketenangan di sana.
Deru, dengarkan aku. Ini untuk terakhir kalinya. Jadi, dengarkan ini baik-baik. Dimana pun kau berada, aku mohon jangan pernah lupakan aku.
Deru, aku tidak pernah tahu keberadaanmu. Meskipun berulang kali aku berusaha mencarimu.
Tapi, jika di tempatmu yang sekarang kau telah menemukan berjuta keindahan melebihi semua keindahan yang pernah kau dapatkan saat kau masih bersamaku, maka jangan pernah kembali untukku.
Jika di tempatmu yang sekarang kau telah menemukan kedamaian, maka jangan pernah kembali untukku. Karena, selama ini aku hanya berharap bisa menemukanmu. Bukan berharap agar kau kembali untukku. Aku juga tidak akan pernah memintamu untuk kembali seandainya dalam pencarianku aku menemukanmu. Namun untukku, semuanya sudah cukup. Cukup untuk saat ini, besok, dan seterusnya.
~
Tuhan, semoga ini yang terbaik untukku. Aku ingin semuanya selesai saat ini...Jadi, tolong aku Tuhan. Sekali ini saja.
Aku menjatuhkan tubuhku ke dalam sungai. Tekanan airnya membuat tubuhku sakit. Tapi aku merasa semua bebanku hilang.
Saat ini air sungai yang deras membuat tubuhku terlempar tak beraturan ke segala arah. Tapi aku masih bisa merasakan air hujan mengguyur bagian kepalaku. Tuhan, aku masih hidup.
~
“Tuhan, beri aku satu keberuntungan...”Aku hilang keseimbangan. Aku tidak bisa merasakan apapun. Namun aku juga tidak berusaha untuk mencari perlindungan. Aku ingin semuanya selesai, saat ini.
~
Tuhan, terima kasih karena akhirnya Kau membuatku selesai.Tuhan, aku bisa merasakan diriku terapung di atas air. Aku juga merasa aku lebih tenang sekarang. Tapi, kenapa perasaanku pada Deru tak berubah? Kenapa keinginanku untuk mencari Deru tidak ikut menghilang? Kenapa keinginanku agar aku benar-benar bisa melupakan Deru masih ada? Kenapa kematianku tidak membuat semuanya selesai?
Atau..., apa aku harus mati sekali lagi? Apa aku harus membunuh diriku sekali lagi? Tapi bagaimana caranya? Tuhan, beri tahu aku agar aku bisa benar-benar mati. Karena aku belum mati.
~
Aku berlari. Aku kembali berdiri di depan sungai yang airnya mulai tenang. Satu kali lagi. Aku akan mencoba satu kali lagi.Kujatuhkan tubuhku ke dalam sungai. Tapi aku tidak merasakan hal-hal yang kurasakan saat pertama kali kujatuhkan tubuhku ke sungai. Aku juga masih merasakan semua yang kurasakan pada Deru. Tentang keinginanku untuk menemukannya. Dan ambisiku untuk melupakannya.
Tuhan, kenapa aku tak pernah beruntung? Kenapa hanya aku yang tak pernah Kau beri keberuntungan? Kenapa aku? Bahkan, Kau juga tidak memberiku kematian. Sebuah kematian.
~
Aku termenung di bawah pohon bambu yang berderik lembut, di samping sungai. Aku menatap langit. Aku mencari Tuhan. Dimana Tuhan?Tiba-tiba aku mendengar suara benda terjatuh ke sungai. Aku menoleh. Tapi itu bukan benda. Ternyata ada orang yang mencoba bunuh diri. Siapa?
Aku harus menyelamatkannya. Tidak mungkin ada dua orang yang tidak beruntung hari ini.
Aku berlari, aku menjatuhkan tubuhku ke dalam sungai, sekali lagi. Aku berenang semampuku. Kucoba meraih tangan laki-laki yang mencoba bunuh diri. Dia mencoba menghindariku. Tapi aku lebih kuat. Aku berhasil membawanya ke darat.
Lalu aku mencoba untuk berdiri. Namun aku terpeleset. Aku melihat laki-laki itu mencoba meraih tanganku. Tapi dia tidak berhasil. Air sungai yang begitu deras membuat tubuhku hanyut lebih cepat dari sebelumnya.
Jelas. Jelas sekali aku melihat laki-laki itu menangis. Kenapa dia menangis? Tuhan..., laki-laki itu Deru! Kenapa dia menangis? Apa dia sudah tidak mendapatkan keberuntungan-Mu? Tuhan, dia adalah laki-laki yang aku cari selama ini. Tuhan..., bagaimana ini?
“DERUU...!!” aku memanggilnya.
~
Aku berjalan di tepi sungai. Aku merasa pernah melewati tempat ini sebelumnya. Aku terus berjalan. Kemudian aku melihat seorang laki-laki duduk termenung di pinggir sungai. Laki-laki itu menangis. Kenapa dia menangis? Apa yang membuatnya menangis?Aku mendekatinya, aku mendengar dia berkata pada dirinya sendiri, “Ya, aku Deru. Aku yang kau cari...” kemudian dia kembali menangis.
Siapa Deru? Tuhan, kasihan sekali laki-laki itu. Kasihan, Deru.
Tuhan, beri dia keberuntungan. Seperti aku yang selalu merasa beruntung ketika Kau beri hujan. Dan saat ini pun kau kembali menurunkan hujan. Meskipun untuk kesekian kalinya, tapi aku merasa hujan kali ini seperti hujan pertama. Seperti laki-laki yang menangis itu. Aku merasa dia seperti hujan pertama.
~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar