Masih bersandar. Langit masih gelap. Hujan masih menari-nari berkejaran dengan angin. Aku masih bersandar. Kuhitungi rangkaian bunga mawar merah yang kupegang. Jumlahnya tidak berubah. Tetap tujuh tangkai. Aku berdiri, berjalan menuju sudut kamarku yang penuh sesak dengan kekosongan. Kuraih payung merah hati. Aku tak bisa menunggu. Aku pun pergi.
Hujan, selalu membuatku tenang. Nyaman.
Langit masih gelap, aku terus berjalan di bawah pohon-pohon besar yang menjatuhkan daun-daun tuanya ke atas payungku.
Aku melihat ke sekitarku. Tak ada seorang pun yang kutemui. Yang setia menemaniku hanya hujan.
Diantara hujan, pasti ada ranting yang patah. Kemudian jatuh ke tanah. Sesaat setelah hujan berhenti, terik matahari akan datang, lalu membuat ranting-ranting mengering. Dan apabila orang-orang yang melewati jalan ini menginjak ranting kering itu, pasti tidak peduli, sekeras apapun ranting itu berderak. Orang-orang itu tidak akan meliriknya. Seperti aku. Orang-orang tidak mempedulikan aku. Tidak ada yang peduli padaku. Seorang pun.
Hidupku yang telah menjadi kepingan merah hati tak mungkin bisa kurekat lagi. Mungkin, jika ada orang yang mau membantu merekatkan hidupku sekeping demi sekeping, pasti aku akan sangat berterimakasih. Tapi itu akan sulit. Karena, tak pernah ada orang yang mau, dan tak pernah ada orang yang bisa merekatkan ranting patah ke pohonnya.
Aku duduk di kursi taman, dan masih di bawah guyuran air hujan. Semua orang melihatku dengan tatapan mencela. Apa yang salah? Apa ada yang salah denganku, jika aku ingin duduk di taman saat hujan mengguyur sambil mencabuti satu per satu kelopak mawar yang ku pegang?
Kenapa semua orang baru akan memperhatikan seseorang lainnya jika seseorang lainnya itu membuat suatu hal yang tidak wajar? Apa benar, itu bentuk perhatian? Atau hanya untuk mencela?
Aku memang bodoh. Padahal, belum tentu laki-laki bermata kumbang itu mengingatku. Kenapa aku sebingung ini? Bahkan leherku sampai pegal karena terus berusaha mencari dia di sekelilingku.
Apa dia tahu kalau aku begitu menyukai hujan? Kalau saja aku bisa memberitahunya, kalau ada alasan kecil dan berharga yang bisa membuatku menjadi begitu mencintai hujan. Karena, saat ada hujan aku merasa ada yang menemani.
Setiap hari aku selalu merasa sendiri. Aku selalu merasa sepi. Dan itu sangat menyiksaku. Dan setiap aku ingat bahwa setiap hari selalu ada perasaan seperti itu, hanya hujan yang menjadi temanku bercerita. Dan itu seolah-olah membuat aku yakin bahwa langit ikut menangis, karena ada seseorang sedang merasa sendiri. Padahal seseorang itu adalah aku yang bersedia menjadi begitu berarti untuk siapa pun, namun tak pernah ada orang lain yang tersadar.
Seandainya semua orang bisa menjadi hujan untukku. Bisa menjadi hujan untuk semua ranting agar tak mengering.
Seandainya hari ini hujan, aku pasti punya teman untuk bercerita.
Hujan, aku ingin menceritakan sesuatu yang indah padamu. Aku ingin kau tahu betapa bahagianya aku hari ini. Betapa bernyawa-nya hidupku saat ini. Dan ternyata apa yang aku lakukan agar bisa bertahan hingga hari ini tak pernah sia-sia. Karena akhirnya, aku bisa tahu namanya.
Benar-benar sebuah alasan kecil yang sederhana. Tapi itu begitu berharga bagiku.
Sekali saja. Aku ingin sekali saja laki-laki bermata kumbang itu tersenyum untukku. Karena hari ini, aku merindukannya. Karena aku ingin menjadi berarti meski hanya untuk seorang manusia saja. Karena aku manusia.
Dia benar-benar biasa saja. Tidak ada yang menarik. Tapi entahlah, yang pasti dia begitu sempurna bagiku. Melihat sosoknya, membuat sesuatu yang hebat berputar di perutku.
Setiap melihatnya, ada sesuatu yang hebat memukul-mukul rongga dadaku. Tapi aku takut. Aku tidak berani mengatakan aku jatuh cinta. Karena sebelumnya, aku tak pernah jatuh cinta.
Dimana dia? Dimana laki-laki bermata kumbang yang mampu membuatku selalu ingin tersenyum?
Saat-saat seperti ini membuat aku merasa menjadi waktu yang terbuang sia-sia. Aku juga merasa telah menjadi dingin yang tidak pernah berarti apa-apa ketika matahari menghangatkan ribuan tulang-tulang yang menggigil karena hujan.
Aku sungguh tak berarti apa-apa. Bahkan temanku hanya hujan. Tapi setidaknya, sejak aku bertemu laki-laki bermata kumbang itu, aku jadi punya harapan. Meskipun yang kuingat, harapan itu hanya sebuah senyum hangat dari bibir laki-laki bermata kumbang. Karena dengan begitu, aku jadi memiliki harapan lain. Yaitu untuk menjadi sedikit lebih berarti di hadapannya. Walaupun aku tahu, sampai hari ini dia bahkan tidak mengenalku.
Dan hari ini lagi-lagi ada sesuatu yang hebat memukul-mukul rongga dadaku. Aku melihatnya. Aku melihat laki-laki bermata kumbang. Dia menatapku. Aku merasa ada sesuatu yang mengikatku, erat. Membuatku tak bergerak selama beberapa detik.
Kuberanikan untuk menghampirinya. Tapi aku takut. Sudahlah, aku harus menghilangkan rasa takut. Karena aku bukan pengecut. Lagi pula, aku hanya ingin merasakan bagaimana jika aku berada di dekatnya. Sekali ini saja…, beri aku kekuatan.
Kutarik nafas dalam-dalam, dan baiklah, akan kulakukan.
Aku berjalan. Aku bisa merasakan, saat ini langkahku sangat kaku. Aku berhenti di belakang punggungnya. Diam dan tak membuat gerakan sekecil apapun. Seisi tubuhku berputar. Seperti ada sesuatu yang menggoncangku. Seluruh organ di dalam tubuhku tak mau diam. Semuanya bergerak, berlarian. Dan yang pasti ada sesuatu yang hebat memukul-mukul rongga dadaku.
Laki-laki bermata kumbang itu sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Aku ingin. Ingin sekali dia tersenyum untukku.
Aku takut.
Baiklah. Tidak akan pernah ada kesempatan untukku lagi. Harus hari ini. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku hanya harus berjalan dan berdiri di hadapannya. Hanya itu saja. Karena hanya itu yang bisa kulakukan agar bisa mendapat sebuah senyum.
Saat aku berada tepat dihadapannya, dia tersenyum, menatapku hangat, menyapaku, dan menyebut namaku, “Hai, Ranting.”
Dan aku tahu rasanya pasti sakit. Karena aku merasakan hal seperti itu setiap hari. Maka, aku berharap hari ini hujan akan kutemui.
Sebentar lagi. Tidak lama lagi aku akan mendapat senyum hangat itu lagi.
Laki-laki bermata kumbang itu berjalan lurus ke arahku. Aku bersiap-siap akan menyapanya. Tapi tidak, aku terlalu kerdil untuk melakukannya. Lebih baik kuberikan senyum terbaikku saja. Aku bersiap untuk tersenyum. Ku pasang mata berbinar, biar dia tahu aku ada di sini.
Tapi, dia terus berjalan. Lurus. Tidak menatapku. Tidak melirikku, sedikit pun. Tidak melihat ke arahku. Dan rasanya sakit.
Tak ada seorang pun yang tahu saat ini hatiku begitu sakit. Tak ada seorang pun yang tahu. Kecuali jika hujan ada di sini, untukku.
Harapan sekecil itu pun bahkan terlalu tinggi untukku. Kenapa selalu aku yang tidak boleh memiliki harapan?
Laki-laki bermata kumbang itu telah membuat harapanku mengering dan tak berarti apa-apa. Dia juga telah membuat harapanku yang tak pernah berarti apa-apa itu menjadi benar-benar sebuah harapan. Tanpa pernah menjadi mimpi yang bisa ku kejar.
Seharusnya dari dulu aku tahu. Seharusnya aku sadar dari awal. Tidak ada yang peduli padaku. Termasuk laki-laki bermata kumbang itu. Karena sampai kapan pun aku akan tetap seperti ranting kering yang terbuang. Patah dari pohon saja sudah sakit, apalagi harus mengering dan terinjak. Tidak ada yang peduli. Sehebat apapun berderak, berteriak.
Inilah aku. Tidak ada yang membutuhkan aku. Tidak ada yang peduli padaku. Seperti namaku, Ranting.
~
Aku melangkah. Kuabaikan hujan. Tak kupedulikan angin yang membuat celanaku basah terhembus air hujan. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Aku tidak ingin menunggu. Meskipun aku tak pernah tahu apa yang aku tunggu. Aku hanya merasa jenuh. Dan aku ingin pergi.Hujan, selalu membuatku tenang. Nyaman.
Langit masih gelap, aku terus berjalan di bawah pohon-pohon besar yang menjatuhkan daun-daun tuanya ke atas payungku.
Aku melihat ke sekitarku. Tak ada seorang pun yang kutemui. Yang setia menemaniku hanya hujan.
Diantara hujan, pasti ada ranting yang patah. Kemudian jatuh ke tanah. Sesaat setelah hujan berhenti, terik matahari akan datang, lalu membuat ranting-ranting mengering. Dan apabila orang-orang yang melewati jalan ini menginjak ranting kering itu, pasti tidak peduli, sekeras apapun ranting itu berderak. Orang-orang itu tidak akan meliriknya. Seperti aku. Orang-orang tidak mempedulikan aku. Tidak ada yang peduli padaku. Seorang pun.
~
Aku harus menata ulang hidupku. Terlalu banyak waktu yang kubuang hanya untuk memikirkan bagaimana jika ada orang yang memperhatikan aku. Memikirkan hal-hal apa saja yang akan kulakukan jika semua orang di sekelilingku sadar akan arti keberadaanku. Padahal, sedikit pun hal itu tak pernah terjadi padaku.Hidupku yang telah menjadi kepingan merah hati tak mungkin bisa kurekat lagi. Mungkin, jika ada orang yang mau membantu merekatkan hidupku sekeping demi sekeping, pasti aku akan sangat berterimakasih. Tapi itu akan sulit. Karena, tak pernah ada orang yang mau, dan tak pernah ada orang yang bisa merekatkan ranting patah ke pohonnya.
~
Aku masih memegang payung merah hati. Aku juga masih memegang tujuh tangkai bunga mawar yang lagi-lagi terus kuhitungi. Padahal aku tahu, jumlahnya tak akan pernah berubah. Hujannya juga tidak berhenti sejak kemarin sore.Aku duduk di kursi taman, dan masih di bawah guyuran air hujan. Semua orang melihatku dengan tatapan mencela. Apa yang salah? Apa ada yang salah denganku, jika aku ingin duduk di taman saat hujan mengguyur sambil mencabuti satu per satu kelopak mawar yang ku pegang?
Kenapa semua orang baru akan memperhatikan seseorang lainnya jika seseorang lainnya itu membuat suatu hal yang tidak wajar? Apa benar, itu bentuk perhatian? Atau hanya untuk mencela?
~
Masih hujan, dan kali ini aku melihat seseorang di ujung jalan. Entah kenapa, meskipun seseorang itu masih terlihat seperti titik, tapi titik itu mampu membuatku tenang dan menjadi memiliki harapan. Kami semakin mendekat. Siapa dia? Kami berpapasan. Aku tahu dia. Laki-laki bermata kumbang. Ternyata aku sering melihatnya. Dia mahasiswa baru di kelas. Tapi aku tidak tahu namanya.~
Laki-laki bermata kumbang. Di mana dia? Kenapa aku tidak melihatnya hari ini? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kabarnya?Aku memang bodoh. Padahal, belum tentu laki-laki bermata kumbang itu mengingatku. Kenapa aku sebingung ini? Bahkan leherku sampai pegal karena terus berusaha mencari dia di sekelilingku.
~
Hari ini aku melihatnya di taman kampus. Dia tersenyum. Lesung pipi-nya membuatku ingin ikut tersenyum. Meski aku tahu senyum itu bukan untukku, tapi aku tetap senang. Setidaknya aku tahu dia baik-baik saja, karena dia masih bisa tersenyum. Tidak seperti aku. Aku tidak mau tersenyum, karena itu membuat lidahku kelu dan hatiku memilu. Kalau saja dia tahu, betapa bingungnya aku ketika kemarin aku tidak melihatnya.Apa dia tahu kalau aku begitu menyukai hujan? Kalau saja aku bisa memberitahunya, kalau ada alasan kecil dan berharga yang bisa membuatku menjadi begitu mencintai hujan. Karena, saat ada hujan aku merasa ada yang menemani.
Setiap hari aku selalu merasa sendiri. Aku selalu merasa sepi. Dan itu sangat menyiksaku. Dan setiap aku ingat bahwa setiap hari selalu ada perasaan seperti itu, hanya hujan yang menjadi temanku bercerita. Dan itu seolah-olah membuat aku yakin bahwa langit ikut menangis, karena ada seseorang sedang merasa sendiri. Padahal seseorang itu adalah aku yang bersedia menjadi begitu berarti untuk siapa pun, namun tak pernah ada orang lain yang tersadar.
Seandainya semua orang bisa menjadi hujan untukku. Bisa menjadi hujan untuk semua ranting agar tak mengering.
~
Hari ini tidak hujan. Hanya mendung. Tapi setidaknya ada perasaan senang. Aku tidak tahu kenapa. Dan yang pasti, sekarang aku sudah tahu nama laki-laki bermata kumbang itu. Aku mau tersenyum. Dan kali ini lidahku tidak kelu, hatiku juga tidak memilu.Seandainya hari ini hujan, aku pasti punya teman untuk bercerita.
Hujan, aku ingin menceritakan sesuatu yang indah padamu. Aku ingin kau tahu betapa bahagianya aku hari ini. Betapa bernyawa-nya hidupku saat ini. Dan ternyata apa yang aku lakukan agar bisa bertahan hingga hari ini tak pernah sia-sia. Karena akhirnya, aku bisa tahu namanya.
Benar-benar sebuah alasan kecil yang sederhana. Tapi itu begitu berharga bagiku.
~
Biasanya hujan mengguyur malu-malu. Tapi kali ini, sepertinya hujan sedang penuh dengan amarah. Anginnya begitu kencang. Membuat tubuhku menggigil. Aku merasa sendiri. Sepi dan terbuang.Sekali saja. Aku ingin sekali saja laki-laki bermata kumbang itu tersenyum untukku. Karena hari ini, aku merindukannya. Karena aku ingin menjadi berarti meski hanya untuk seorang manusia saja. Karena aku manusia.
~
Hujan datang lagi hari ini. Aku melihat hujan tersenyum padaku dari balik jendela. Dan sekarang aku sedang duduk bersebelahan dengan laki-laki bermata kumbang itu di kelas. Aku memperhatikan jarinya, aku melihat pensil yang sedang digenggamnya. Aku juga melihat cara tangannya menulis di atas buku catatannya. Semuanya terlihat indah. Semuanya terlihat begitu bermakna. Tangan itu, sepertinya hangat jika kusentuh. Tapi aku takut.Dia benar-benar biasa saja. Tidak ada yang menarik. Tapi entahlah, yang pasti dia begitu sempurna bagiku. Melihat sosoknya, membuat sesuatu yang hebat berputar di perutku.
Setiap melihatnya, ada sesuatu yang hebat memukul-mukul rongga dadaku. Tapi aku takut. Aku tidak berani mengatakan aku jatuh cinta. Karena sebelumnya, aku tak pernah jatuh cinta.
~
Hari ini seperti biasa. Hujan dan dingin. Aku tidak melihat laki-laki bermata kumbang itu. Dan ini menciptakan semburat perih di rongga dadaku. Seperti sebuah perasaan kosong.Dimana dia? Dimana laki-laki bermata kumbang yang mampu membuatku selalu ingin tersenyum?
Saat-saat seperti ini membuat aku merasa menjadi waktu yang terbuang sia-sia. Aku juga merasa telah menjadi dingin yang tidak pernah berarti apa-apa ketika matahari menghangatkan ribuan tulang-tulang yang menggigil karena hujan.
Aku sungguh tak berarti apa-apa. Bahkan temanku hanya hujan. Tapi setidaknya, sejak aku bertemu laki-laki bermata kumbang itu, aku jadi punya harapan. Meskipun yang kuingat, harapan itu hanya sebuah senyum hangat dari bibir laki-laki bermata kumbang. Karena dengan begitu, aku jadi memiliki harapan lain. Yaitu untuk menjadi sedikit lebih berarti di hadapannya. Walaupun aku tahu, sampai hari ini dia bahkan tidak mengenalku.
~
Seperti biasanya. Hujan mengguyur kota Bandung.Dan hari ini lagi-lagi ada sesuatu yang hebat memukul-mukul rongga dadaku. Aku melihatnya. Aku melihat laki-laki bermata kumbang. Dia menatapku. Aku merasa ada sesuatu yang mengikatku, erat. Membuatku tak bergerak selama beberapa detik.
Kuberanikan untuk menghampirinya. Tapi aku takut. Sudahlah, aku harus menghilangkan rasa takut. Karena aku bukan pengecut. Lagi pula, aku hanya ingin merasakan bagaimana jika aku berada di dekatnya. Sekali ini saja…, beri aku kekuatan.
Kutarik nafas dalam-dalam, dan baiklah, akan kulakukan.
Aku berjalan. Aku bisa merasakan, saat ini langkahku sangat kaku. Aku berhenti di belakang punggungnya. Diam dan tak membuat gerakan sekecil apapun. Seisi tubuhku berputar. Seperti ada sesuatu yang menggoncangku. Seluruh organ di dalam tubuhku tak mau diam. Semuanya bergerak, berlarian. Dan yang pasti ada sesuatu yang hebat memukul-mukul rongga dadaku.
Laki-laki bermata kumbang itu sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Aku ingin. Ingin sekali dia tersenyum untukku.
Aku takut.
Baiklah. Tidak akan pernah ada kesempatan untukku lagi. Harus hari ini. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku hanya harus berjalan dan berdiri di hadapannya. Hanya itu saja. Karena hanya itu yang bisa kulakukan agar bisa mendapat sebuah senyum.
Saat aku berada tepat dihadapannya, dia tersenyum, menatapku hangat, menyapaku, dan menyebut namaku, “Hai, Ranting.”
~
Hari ini cerah. Tidak seperti biasanya. Langitnya begitu tenang, awannya begitu lembut berarak. Anginnya pun ramah. Tapi aku tetap lebih menyukai hujan. Meskipun aku sadar, gerimis terkadang lebih ramah dari pada hujan. Tapi tetap saja, bila cuaca secerah ini, aku akan lebih menyukai hujan. Karena sinar matahari selalu membuat ranting yang patah dari pohonnya menjadi kering, terinjak, dan tidak dipedulikan, meskipun ranting itu berderak keras.Dan aku tahu rasanya pasti sakit. Karena aku merasakan hal seperti itu setiap hari. Maka, aku berharap hari ini hujan akan kutemui.
~
Oh, betapa aku masih mengingat kejadian kemarin. Ketika aku berada tepat di hadapannya. Ketika dengan hangat dia tersenyum untukku. Dan benar-benar hanya tersenyum untukku. Begitu jelas dia menyebut namaku. Dia tahu namaku. Ternyata dia tahu namaku. Ternyata aku tidak begitu tak berarti untuk orang yang baru ku kenal. Meskipun arti keberadaanku untuknya hanya sedikit. Tidak apa-apa. Karena, untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada orang yang sadar bahwa aku ada.~
Kembali hari ini aku melihat dia di ujung jalan. Tujuh tangkai bunga mawar yang kupegang terasa begitu harum, lebih harum dari biasanya. Payung merah hati yang kupegang pun menjadi seperti begitu ringan.Sebentar lagi. Tidak lama lagi aku akan mendapat senyum hangat itu lagi.
Laki-laki bermata kumbang itu berjalan lurus ke arahku. Aku bersiap-siap akan menyapanya. Tapi tidak, aku terlalu kerdil untuk melakukannya. Lebih baik kuberikan senyum terbaikku saja. Aku bersiap untuk tersenyum. Ku pasang mata berbinar, biar dia tahu aku ada di sini.
Tapi, dia terus berjalan. Lurus. Tidak menatapku. Tidak melirikku, sedikit pun. Tidak melihat ke arahku. Dan rasanya sakit.
Tak ada seorang pun yang tahu saat ini hatiku begitu sakit. Tak ada seorang pun yang tahu. Kecuali jika hujan ada di sini, untukku.
Harapan sekecil itu pun bahkan terlalu tinggi untukku. Kenapa selalu aku yang tidak boleh memiliki harapan?
Laki-laki bermata kumbang itu telah membuat harapanku mengering dan tak berarti apa-apa. Dia juga telah membuat harapanku yang tak pernah berarti apa-apa itu menjadi benar-benar sebuah harapan. Tanpa pernah menjadi mimpi yang bisa ku kejar.
Seharusnya dari dulu aku tahu. Seharusnya aku sadar dari awal. Tidak ada yang peduli padaku. Termasuk laki-laki bermata kumbang itu. Karena sampai kapan pun aku akan tetap seperti ranting kering yang terbuang. Patah dari pohon saja sudah sakit, apalagi harus mengering dan terinjak. Tidak ada yang peduli. Sehebat apapun berderak, berteriak.
Inilah aku. Tidak ada yang membutuhkan aku. Tidak ada yang peduli padaku. Seperti namaku, Ranting.
~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar