Selasa, 25 Mei 2010

Pesta

Istriku yang berwajah elf sedang membuatkan kopi untuk rekan kerjaku sesama tikus. Ya, aku dan rekan kerjaku berwajah tikus. Sedang di luar, langit masih membiru – cerah, diluar sana juga banyak sosok berwajah semut sedang mengangkat tinggi-tinggi papan dan kertas karton yang bertuliskan keinginan mereka. Sedangkan aku dan yang lainnya menikmati hidangan lezat buatan pembantuku, si anjing.
~
Aku masih terbaring lemah di kamar rumah sakit. Meski ruangannya vip, tetap saja rasanya tidak enak, karena aku sakit.
Kepalaku semakin botak. Perutku yang buncit terasa sakit. Katanya aku gagal ginjal. Katanya juga aku stroke. Ah, pusing aku.
Setiap hari istriku selalu sembahyang untuk kesembuhanku. Aneh. Selain wajahnya seperti elf, dia juga berhati elf. Sedangkan aku, sehebat apapun aku bertobat, tetap saja aku ini tikus. Jadi aku tidak perlu tobat. Seperti ini saja aku sudah bisa hidup enak.
Tubuhku memang manusia. Tapi sebenarnya aku ini tikus dengan jas dan dasi buatan luar negeri. Mahal.
~
Mereka tidak tahu. Kebutuhan hidupku begitu banyak. Dan tentu saja membutuhkan biaya yang juga besar. Aku ini lelaki tua. Dulu, bahkan sampai hari ini aku tidak ingin kalah dari kehebatan rekan kerjaku. Setiap tiga bulan sekali aku harus mengganti mobilku dengan yang baru. Yang paling mahal. Kalau tidak, aku malu.
Aku tidak pernah peduli dengan nasib semut-semut di luar sana. Yang penting aku sudah terpilih. Setelah itu, semua urusan menjadi urusan mereka sendiri. Susah-senang, itu urusan mereka. Itu memang wajar kan. Lagi pula semut ditakdirkan menjadi sosok yang kecil dan lemah. Jadi, kalau mereka terinjak, itu sudah semestinya dan mereka harus menerima.
~
Aku masih terbaring. Istriku terus menyuapiku dengan makanan yang itu-itu saja. Dan semut-semut itu masih berdemo menuntut hak-nya. Meminta keadilan, katanya. Ah, malas aku mendengarnya.
Berita di televisi dan media cetak masih sama. Para mahasiswa memintaku diseret ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Tapi tenang saja, pengacaraku yang berwajah serigala itu sangat handal dalam menangani kasus seperti kasusku.
~
Kondisiku semakin membaik. Dan hari ini aku bisa pulang ke rumahku. Rumah yang kubangun dengan uang yang seharusnya menjadi milik semut-semut. Tapi sudahlah. Lagi pula pengacaraku sudah menyelesaikan urusan ini. Dan aku tidak terbukti bersalah.
Ah, cucu-cucuku datang menengok. Lihat, mereka senang tinggal di rumahku yang mewah ini. Mereka masih kecil-kecil, lucu sekali. Jadi mereka tidak tahu apa yang menimpa kakek mereka.
~
Berita di televisi malam ini memberitahukan bahwa hasil persidangan selama tiga minggu ini menyatakan bahwa aku tidak bersalah. Bagaimana? Hebat bukan pengacaraku? Padahal aku tidak pernah datang sekali pun ke acara persidangan.
Dengan begitu, aku tidak perlu cemas lagi dengan semua informasi yang hilir mudik di televisi maupun media cetak. Meskipun semut-semut itu terus menulis, “Ini tidak adil! Dasar pencuri!” atau berteriak, “Tubuhmu memang manusia, tapi hatimu busuk seperti tikus!” Atau bahkan “KORUPTOR!”
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar