Aku pulang. Kuletakkan tas butut di samping kakiku yang beralaskan sandal jepit usang. Sulit rasanya kutegakkan wajahku. Tapi aku ingin melihat sepasang mata yang dulu kuingat begitu hangat saat menatap sambil membelai wajahku. Aku hanya berharap mata itu tetap begitu meski keriput di sekitarnya pasti telah mengurangi keindahannya.
Beberapa saat kemudian kudengar derum motor berhenti di halaman kamar kontrakkanku yang tak begitu luas. Kemudian Yono menghampiriku yang sejak beberapa saat yang lalu—setelah mendengar kedatangan Yono—telah duduk manis menunggunya. Dia senang melihat wajahku yang kupoles dengan bedak dan lipstick seharga lima belas ribu rupiah yang diberikan Yono padaku dua hari yang lalu. Pemberian yang begitu murah bila dilihat dari segi materi. Namun itu menjadi sangat berarti bagiku. Karena yang memberikan itu semua adalah Yono, kekasihku.
Kuingat jelas wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai ibunya Yono begitu menjunjung tinggi status kebangsawanannya. Tapi, apa ada yang salah padaku jika aku tidak dilahirkan dari keluarga bangsawan seperti beliau? Apa salahku jika aku tidak terlahir dari keluarga ningrat?
Aku juga tidak ingin terlarut dengan suasana hatiku yang kalut. Aku harus memperbaiki semuanya. Aku akan memulai semuanya dari awal, tanpa Yono. Laki-laki yang begitu aku cintai.
Lagipula saat ini aku bersiap untuk berkencan. Meskipun aku tidak pernah mengenal pasangan kencanku nanti. Yang jelas, kekasih baruku berkata, bahwa teman kencanku sekarang adalah orang baik. Dan aku pasti tidak akan kecewa telah kenal dan pernah berkencan dengannya.
Yang kupikirkan saat ini adalah uang. Aku harus mendaptkan uang agar kekasihku bisa melanjutkan kuliahnya. Karena semakin cepat kekasihku lulus, semakin cepat pula kami menikah.
Ah, menikah. Ibu pasti senang mendengar anak perempuan satu-satunya akan menikah. Akan kubuat pesta besar di kampung. Agar semua orang tahu bahwa ibuku berhasil mendidikku menjadi seorang anak yang sukses di kota.
Tak berapa lama dia menghampiriku yang sedang menikmati secangkir kopi panas di sebuah cafĂ© di salah satu sudut kota Bandung. “Mana uangnya? Aku benar-benar membutuhkannya. Aku harus menyelesaikan tesisku secepatnya. Dan aku butuh biaya.” Itu kalimat pertama yang kudengar dari bibir kekasih baruku setelah dia mencium keningku.
Sesaat setelah dia duduk di kursi di sampingku, aku merogoh tas. Dengan bangga kukeluarkan amplop berisi uang yang diinginkannya. Uang yang kudapat setelah aku menemani Tuan Robert bermain biliar. Dan kulihat dia begitu senang. Dan dia berjanji akan membelikanku sepatu baru. Saat ini aku merasa berguna untuk kekasihku. Aku senang melihatnya bisa menggapai cita-citanya.
Aku begitu mencintai kekasih baruku. Maka, aku menurut. Lagi pula, bayaran menemani Tuan Robert pasti besar.
Tapi percuma. Tanganku tetap saja diborgol. Sakit. Dan kekasih baruku hanya memberikan senyumnya saja. Setelah kuberikan segalanya. Segala yang dia inginkan.
~
Dingin. Itu yang kurasakan saat ini. Berdiam di sudut ruangan yang lebih sempit dari kamar kontrakkanku. Aku hanya mendengar suara rumput bernyanyi tertiup angin di luar sana. Aku bahkan lupa rasanya bakso, makanan favoritku. Kutatapi satu per satu wanita-wanita yang mengenakan pakaian yang persis sama denganku. Mereka tertidur lelap. Tapi aku tak tahu, apakah mereka memikirkan hal yang sama denganku? Aku ingin bebas. Tapi aku harus menunggu empat tahun lagi. Dan empat tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Aku menatap langit dari balik jeruji besi. Aku ingin mengatakan pada kekasihku, betapa aku mencintainya. Namun, mengapa dia tidak datang untuk menemuiku? Meskipun hanya sebentar.
Aku yang salah. Kenapa aku mau dibujuk untuk menemui Tuan Robert? Padahal, sejak pertemuan pertamaku dengan Tuan Robert, aku tahu bahwa dia bukan orang baik. Dia adalah seorang pengedar obat-obatan terlarang. Dan aku dijebak saat Tuan Robert memintaku untuk membawakan tasnya ke kamar hotel. Tas yang berisis barang haram, yang mengantarkanku ke tempat ini. Tas yang membuat Tuan Robert dan semua orang yang berhubungan dengannya selamat. Sementara aku…
Aku duduk di sampingnya. Dia memegang tanganku erat sekali. Dan itu membuatku sangat senang. Aku bahagia. Meskipun aku takut, tapi aku tenang jika kekasihku ada di dekatku. Namun, tiba-tiba dia berkata, “Maaf, Sayang. Aku ingin hubungan kita berakhir. Dan aku harap kau mau mengerti, kalau kita memang sudah selesai.”
Aku menangis di hadapannya. Namun itu tetap tidak membuatnya luluh dan menarik kata-katanya. Aku tidak percaya. Laki-laki yang selama ini aku banggakan ternyata sanggup menyakitiku setelah keberikan apa pun yang dia minta. Apa pun.
~
Keretanya masih terus berlari mengejar waktu. Asapnya masih mengepul tinggi. Dan begitu jelas kulihat pemandangan yang sama persis ketika kutinggalkan wanita ringkih itu di depan pintu. Bebas. Aku ingin bebas. Dan hari kekebasan itu kini telah menjemputku.
Kulepaskan pakaian bernomor 123 itu tadi pagi. Dan senang rasanya kutinggalkan rumah yang menaungiku selama empat tahun ini dibalik jeruji besi untuk barang yang bukan milikku. Aku harus mengakui kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Tapi kini, aku pulang.
Gerbong-gerbong kereta yang kosong menari-nari ditarik lokomotif yang masih meniupkan asapnya. Penjaja makanan dengan setia menawarkan dagangannya kepada setiap penumpang yang ditemuinya. Pengamen cilik menghampiriku. Dia mainkan alat musik yang terbuat dari lima buah tutup botol yang dipipihkan, dan dipaku pada sebatang kayu kotor. Dia menyanyikan sebuah lagu yang membuatku ingat pada Tuhan.
Segala yang ada dalam hidupku
Kusadari semua milik-Mu
Kuhanya hamba-Mu yang berlumur dosa
Tunjukkan aku jalan lurus-Mu
Terangiku dalam setiap langkah hidupku
Karena kutahu hanya Kau Tuhanku…
(penggalan lagu UNGU)
Tuhan yang sudah lama kulupakan. Tuhan yang selalu ada untukku. Tapi aku tak pernah mengingatnya sedetik pun. Tuhan yang menggariskanku untuk terlahir dari seorang wanita hebat yang membesarkanku. Tuhan yang kini membuatku bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk pulang dan memperbaiki semuanya.
Pengamen cilik selesai menyanyikan lagunya. Kuberikan lima keping uang receh pecahan seratus rupiah. Hanya itu sisa uang yang kupunya. Bahagianya aku melihat anak itu tersenyum penuh makna.
Terima kasih Tuhan, hari ini aku bisa membuat seorang hamba-Mu tersenyum. Meskipun aku sadar, aku ini bukan orang suci.
Sekarang aku pulang. Tak membawa apa-apa. Bahkan nama baikku pun telah hilang. Nama baik ibuku pun ikut tercemar.
Aku harus masuk ke dalam. Aku ingin melihatnya. Aku harus menemuinya. Karena alasan itulah saat ini aku pulang ke tempat ini. Ke rumah. Meskipun jika aku melangkahkan kakiku ke dalam, berarti aku telah mengotori rumah ini dengan ketidaksucianku.
Perlahan kusentuh gagang pintu yang penuh karat. Kubuka dan kusibakkan kain lusuh yang menutupi kaca pintu itu.
Langkah kecilku perlahan memasuki rumah dingin yang membesarkanku. Rumah yang menyaksikan begitu besarnya keinginanku untuk membahagiakan wanita ringkih itu.
Kubayangkan, beberapa langkah lagi aku akan menemui wanita itu sedang duduk di kursi reyot sambil menyulam pakaian hangat untukku. Kuniatkan untuk mencium kakinya. Kuyakinkan pada diriku untuk meminta maaf padanya. Dan akan kuminta dia untuk memelukku dengan pelukan terhangatnya. Pelukan yang tak pernah lagi kurasakan sejak delapan tahun lalu. Sejak kuberanikan diri untuk menggapai harapanku.
~
Masih memerah wajah langit senja itu. Saat kulangkahkan kaki menuju kota Bandung dengan berbekal ijazah SMEA. Kutinggalkan sosok ringkih dengan sinar mata hangat tepat di depan pintu. Digantungkannya tinggi-tinggi harapan padaku. Harapan yang tak pernah terpikirkan olehnya. Harapan yang kupaksakan.~
Langit masih cerah. Bias jingga mulai memerah. Hari mulai malam. Dan malam ini Yono berjanji menjemputku. Laki-laki yang kupuja itu akan mengajakku menemui ibunya. Beberapa saat kemudian kudengar derum motor berhenti di halaman kamar kontrakkanku yang tak begitu luas. Kemudian Yono menghampiriku yang sejak beberapa saat yang lalu—setelah mendengar kedatangan Yono—telah duduk manis menunggunya. Dia senang melihat wajahku yang kupoles dengan bedak dan lipstick seharga lima belas ribu rupiah yang diberikan Yono padaku dua hari yang lalu. Pemberian yang begitu murah bila dilihat dari segi materi. Namun itu menjadi sangat berarti bagiku. Karena yang memberikan itu semua adalah Yono, kekasihku.
~
Aku sampai di kediaman Yono. Rumah yang begitu mewah namun tetap anggun. Isinya pun tertata rapi. Semuanya indah. Semuanya serba mahal. Tentu saja, jika kuingat cerita Yono tentang kleuarganya, pantas saja rumah ini begitu mewah. Karena Yono keturunan ningrat.~
Aku berlari. Kunaiki angkutan kota sambil menangis. Kesembunyikan tubuhku di balik kaca angkutan kota yang gelap itu. Dan begitu jelas kudengar Yono meminta maaf dan memintaku untuk kembali ke rumahnya sambil berlari mengejar angkutan kota yang kunaiki. Tapi masih kuingat jelas pula saat wanita setengah baya itu memaksaku angkat kaki dari rumahnya dengan nada tinggi. Dan menyalahkanku karena aku terlahir dari keluarga yang tak sederajat dengannya.Kuingat jelas wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai ibunya Yono begitu menjunjung tinggi status kebangsawanannya. Tapi, apa ada yang salah padaku jika aku tidak dilahirkan dari keluarga bangsawan seperti beliau? Apa salahku jika aku tidak terlahir dari keluarga ningrat?
~
Telah kuhabiskan waktu berminggu-minggu untuk berpikir tentang Yono. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan dia. Aku masih sakit hati. Bukan keran Yono, tapi karena sifat ibunya Yono yang begitu mengagungkan keningratannya.Aku juga tidak ingin terlarut dengan suasana hatiku yang kalut. Aku harus memperbaiki semuanya. Aku akan memulai semuanya dari awal, tanpa Yono. Laki-laki yang begitu aku cintai.
~
Aku berhasil melupakan semua hal yang berhubungan dengan Yono. Itu semua karena, saat ini aku sudah mempunyai kekasih baru. Dia lebih tampan, lebih baik, dan lebih berpendidikan dibandingkan dengan Yono. Dan semenjak aku berpisah dari Yono, tak pernah ada lagi orang yang selalu menjejaliku dengan norma-norma yang harus selalu dipatuhi. Itu artinya, aku bebas.Lagipula saat ini aku bersiap untuk berkencan. Meskipun aku tidak pernah mengenal pasangan kencanku nanti. Yang jelas, kekasih baruku berkata, bahwa teman kencanku sekarang adalah orang baik. Dan aku pasti tidak akan kecewa telah kenal dan pernah berkencan dengannya.
~
Kuciumi laki-laki bernama Yoga yang kini berbaring di sampingku. Kuberikan segalanya. Kupasrahkan semua yang aku punya. Dan dia begitu menikmati tubuhku. Sama sekali tak kusesali. Dan besok aku masih harus menemani Tuan Robert bermain biliar.Yang kupikirkan saat ini adalah uang. Aku harus mendaptkan uang agar kekasihku bisa melanjutkan kuliahnya. Karena semakin cepat kekasihku lulus, semakin cepat pula kami menikah.
Ah, menikah. Ibu pasti senang mendengar anak perempuan satu-satunya akan menikah. Akan kubuat pesta besar di kampung. Agar semua orang tahu bahwa ibuku berhasil mendidikku menjadi seorang anak yang sukses di kota.
~
Siang ini kekasih baruku akan menemuiku. Kukenakan rok diatas lutut yang dibelikannya saat ulang tahunku seminggu yang lalu.Tak berapa lama dia menghampiriku yang sedang menikmati secangkir kopi panas di sebuah cafĂ© di salah satu sudut kota Bandung. “Mana uangnya? Aku benar-benar membutuhkannya. Aku harus menyelesaikan tesisku secepatnya. Dan aku butuh biaya.” Itu kalimat pertama yang kudengar dari bibir kekasih baruku setelah dia mencium keningku.
Sesaat setelah dia duduk di kursi di sampingku, aku merogoh tas. Dengan bangga kukeluarkan amplop berisi uang yang diinginkannya. Uang yang kudapat setelah aku menemani Tuan Robert bermain biliar. Dan kulihat dia begitu senang. Dan dia berjanji akan membelikanku sepatu baru. Saat ini aku merasa berguna untuk kekasihku. Aku senang melihatnya bisa menggapai cita-citanya.
~
Hari ini kekasih baruku memintaku untuk menemui Tuan Robert lagi. Awalnya aku menolak. Namun dia terus memaksaku untuk mau menenui Tuan Robert. Dia juga berjanji bahwa ini untuk yang terakhir kalinya aku harus menemui Tuan Robert.Aku begitu mencintai kekasih baruku. Maka, aku menurut. Lagi pula, bayaran menemani Tuan Robert pasti besar.
~
Suasana di ruangan ini begitu panas. Dan aku ketakutan. Aku duduk di tengah-tengah orang-orang yang berpendidikan. Aku sudah jujur. Tapi mereka tetap mendesakku untuk mengatakan “Ya.” Tapi aku bersikeras mengatakan bahwa barang itu bukan milikku. Barang itu milik Tuan Robert. Dan aku dijebak.Tapi percuma. Tanganku tetap saja diborgol. Sakit. Dan kekasih baruku hanya memberikan senyumnya saja. Setelah kuberikan segalanya. Segala yang dia inginkan.
~
Dingin. Itu yang kurasakan saat ini. Berdiam di sudut ruangan yang lebih sempit dari kamar kontrakkanku. Aku hanya mendengar suara rumput bernyanyi tertiup angin di luar sana. Aku bahkan lupa rasanya bakso, makanan favoritku. Kutatapi satu per satu wanita-wanita yang mengenakan pakaian yang persis sama denganku. Mereka tertidur lelap. Tapi aku tak tahu, apakah mereka memikirkan hal yang sama denganku? Aku ingin bebas. Tapi aku harus menunggu empat tahun lagi. Dan empat tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Aku menatap langit dari balik jeruji besi. Aku ingin mengatakan pada kekasihku, betapa aku mencintainya. Namun, mengapa dia tidak datang untuk menemuiku? Meskipun hanya sebentar.
~
Aku terus merenung. Apa salahku? Kenapa harus aku yang dijebak? Kenapa kekasih baruku tega memperlakukan aku seperti ini? Aku jadi teringat ibu. Ibu, aku ingin pulang.Aku yang salah. Kenapa aku mau dibujuk untuk menemui Tuan Robert? Padahal, sejak pertemuan pertamaku dengan Tuan Robert, aku tahu bahwa dia bukan orang baik. Dia adalah seorang pengedar obat-obatan terlarang. Dan aku dijebak saat Tuan Robert memintaku untuk membawakan tasnya ke kamar hotel. Tas yang berisis barang haram, yang mengantarkanku ke tempat ini. Tas yang membuat Tuan Robert dan semua orang yang berhubungan dengannya selamat. Sementara aku…
~
Akhirnya hari ini kekasihku datang berkunjung. Dengan penuh semangat aku keluar menemuinya. Aku berharap, dia akan membawa kabar baik untukku.Aku duduk di sampingnya. Dia memegang tanganku erat sekali. Dan itu membuatku sangat senang. Aku bahagia. Meskipun aku takut, tapi aku tenang jika kekasihku ada di dekatku. Namun, tiba-tiba dia berkata, “Maaf, Sayang. Aku ingin hubungan kita berakhir. Dan aku harap kau mau mengerti, kalau kita memang sudah selesai.”
Aku menangis di hadapannya. Namun itu tetap tidak membuatnya luluh dan menarik kata-katanya. Aku tidak percaya. Laki-laki yang selama ini aku banggakan ternyata sanggup menyakitiku setelah keberikan apa pun yang dia minta. Apa pun.
~
Keretanya masih terus berlari mengejar waktu. Asapnya masih mengepul tinggi. Dan begitu jelas kulihat pemandangan yang sama persis ketika kutinggalkan wanita ringkih itu di depan pintu. Bebas. Aku ingin bebas. Dan hari kekebasan itu kini telah menjemputku.
Kulepaskan pakaian bernomor 123 itu tadi pagi. Dan senang rasanya kutinggalkan rumah yang menaungiku selama empat tahun ini dibalik jeruji besi untuk barang yang bukan milikku. Aku harus mengakui kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Tapi kini, aku pulang.
~
Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi saat ini aku hanya ingin tersenyum menikmati pemandangan indah di kiri dan kananku.Gerbong-gerbong kereta yang kosong menari-nari ditarik lokomotif yang masih meniupkan asapnya. Penjaja makanan dengan setia menawarkan dagangannya kepada setiap penumpang yang ditemuinya. Pengamen cilik menghampiriku. Dia mainkan alat musik yang terbuat dari lima buah tutup botol yang dipipihkan, dan dipaku pada sebatang kayu kotor. Dia menyanyikan sebuah lagu yang membuatku ingat pada Tuhan.
Segala yang ada dalam hidupku
Kusadari semua milik-Mu
Kuhanya hamba-Mu yang berlumur dosa
Tunjukkan aku jalan lurus-Mu
Terangiku dalam setiap langkah hidupku
Karena kutahu hanya Kau Tuhanku…
(penggalan lagu UNGU)
Tuhan yang sudah lama kulupakan. Tuhan yang selalu ada untukku. Tapi aku tak pernah mengingatnya sedetik pun. Tuhan yang menggariskanku untuk terlahir dari seorang wanita hebat yang membesarkanku. Tuhan yang kini membuatku bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk pulang dan memperbaiki semuanya.
Pengamen cilik selesai menyanyikan lagunya. Kuberikan lima keping uang receh pecahan seratus rupiah. Hanya itu sisa uang yang kupunya. Bahagianya aku melihat anak itu tersenyum penuh makna.
Terima kasih Tuhan, hari ini aku bisa membuat seorang hamba-Mu tersenyum. Meskipun aku sadar, aku ini bukan orang suci.
~
Tak terasa lima belas menit lagi aku sampai di Kroya. Tanah kelahiranku. Tanah yang melihatku tumbuh dengan harapan yang begitu indah. Harapan yang kupaksakan pada seorang wanita ringkih yang kutinggalkan di depan pintu. Kuyakinkan padanya bahwa aku akan jadi orang sukses di kota. Aku akan membuatnya dapat menikmati masa tuanya. Dan dengan sejuta doa dia melepaskanku menggapai harapanku. Melepaskanku untuk pergi ke Bandung.Sekarang aku pulang. Tak membawa apa-apa. Bahkan nama baikku pun telah hilang. Nama baik ibuku pun ikut tercemar.
~
Sulit rasanya kutegakkan wajahku. Tapi aku rindu dengan sorot mata hangat itu. Aku harus masuk ke dalam. Aku ingin melihatnya. Aku harus menemuinya. Karena alasan itulah saat ini aku pulang ke tempat ini. Ke rumah. Meskipun jika aku melangkahkan kakiku ke dalam, berarti aku telah mengotori rumah ini dengan ketidaksucianku.
Perlahan kusentuh gagang pintu yang penuh karat. Kubuka dan kusibakkan kain lusuh yang menutupi kaca pintu itu.
Langkah kecilku perlahan memasuki rumah dingin yang membesarkanku. Rumah yang menyaksikan begitu besarnya keinginanku untuk membahagiakan wanita ringkih itu.
Kubayangkan, beberapa langkah lagi aku akan menemui wanita itu sedang duduk di kursi reyot sambil menyulam pakaian hangat untukku. Kuniatkan untuk mencium kakinya. Kuyakinkan pada diriku untuk meminta maaf padanya. Dan akan kuminta dia untuk memelukku dengan pelukan terhangatnya. Pelukan yang tak pernah lagi kurasakan sejak delapan tahun lalu. Sejak kuberanikan diri untuk menggapai harapanku.
~
Kuucapkan beribu kata maaf. Tapi aku tak yakin dia mendengarku. Aku tak lagi dapat mencium kakinya. Dan tak ada lagi sinar mata hangat itu. Juga tak kutemui dia di tempat yang kubayangkan. Karena saat ini aku bersimpuh di hadapan nisan yang mulai keropos termakan rayap. Menangis aku di pusara-nya. Maaf, Ibu.~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar