Selasa, 25 Mei 2010

Merpati Tak Punya Sayap

Lirih. Itu adalah perasaan yang begitu menyesakkan dadaku saat ini. Aku diam, aku merenung, tapi tak satu pun kutemukan jalan keluar. Semua selalu berujung pada satu jawaban, putus asa. Aku ingin bertanya, siapa yang dapat membantuku? Siapa yang dapat membawaku menuju jalan cahaya? Sementara di sekelilingku adalah sejuta diam.
~
Merpati. Itulah namaku. Nama yang membuatku selalu berharap dapat terbang. Setinggi mungkin. Agar aku dapat membantu mewujudkan mimpi-mimpi para pemimpi seperti aku.
~
Bandung. Kota terindah bagiku. Juga kota yang menyisakan begitu banyak luka.
Aku bernafas. Pagi ini aku masih diberi kesempatan untuk bernafas. Namun, masih ada sesak yang membuatku merasa tidak nyaman. Tidak pernah merasa nyaman.
~
Aku terus berjalan. Kulangkahkan kakiku tanpa tahu ke mana tujuanku. Yang kupegang hanya sebuah harapan. Hari ini aku berharap dapat terbang dengan sayap terindah yang tumbuh lebar di ruang mimpiku.
Ruang mimpi yang hanya dikuasai oleh satu nama. Namamu.
Tidak hanya namamu, tapi aku ingat semua tentangmu.
~
Aku memulai hari ini dengan perasaan yang sangat sederhana. Aku ingin menemukan sebuah cinta. Biar. Biar saja aku memungutnya dari jalan yang akan kulalui hari ini. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan bernafas lega. Meskipun cinta itu hancur berserakan. Biar. Biar aku memungutnya, dan akan aku rekatkan sekeping demi sekeping lalu menjadikannya mozaik. Dengan begitu, mungkin aku akan bahagia. Karena terkadang mozaik terlihat lebih indah dari pada kaca yang utuh.
Sementara, biarlah aku hanya menjadi merpati tanpa sayap. Yang berusaha menemukan cinta sederhana di jalan beraspal. Bukan di awan biru yang luas dan begitu banyak menyimpan mimpi. Karena, tak ada yang mau meminjamiku sayap.
~
Hari ini kabut menghalangi pandanganku. Namun begitu jelas kulihat sosokmu di ujung ruangan paling pekat yang pernah kulihat. Kau berdiri tegak. Masih sama seperti dulu. Masih membuatku jatuh cinta.
Aku mencintaimu. Perasaan paling naif yang pernah aku punya. Sebuah perasaan bodoh dan menyedihkan yang pernah aku alami.
Namamu, setiap garis wajahmu, setiap air muka yang kau punya. Aku masih dapat mengingat dan merasakannya dengan jelas. Aku juga masih ingat saat terakhirkalinya aku bersandar di punggungmu. Nyaman. Sebuah perasaan langka yang pernah kurasakan, dan hanya kudapat darimu.
Aku tak mau melepaskan pandanganku dari sosokmu. Sedikit pun. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama. Sedikit lebih lama.
Aku melihat jaket yang kau kenakan. Aku memperhatikan caramu berdiri. Aku memperhatikan caramu memasukkan jari-jari tanganmu ke dalam saku celanamu. Semua gerakan itu indah. Semuanya terlihat sempurna di mataku. Karena, kau laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta. Aku percaya itu, hingga hari ini.
~
Hari itu adalah hari terakhirku melihatmu. Juga kesempatan terakhir untuk mengatakan, “Aku kesepian.” Tapi tak pernah kulakukan. Hal terbodoh ke dua yang pernah kualami.
~
Kembali bermimpi. Aku tak pernah menginginkan semua yang berlebihan. Aku hanya ingin hal sederhana. Aku ingin terbang. Itu saja. Karena aku adalah merpati.
Aku ingin terbang tinggi. Sebenarnya, sebuah keinginan yang sederhana saja bagi merpati kebanyakan. Hanya saja, yang menjadi sulit saat ini adalah aku tak punya sayap. Dan tak ada penjual sayap di jalan beraspal. Apalagi di langit. Karena, langit hanya bisa menantang merpati pengecut seperti aku untuk terbang ke arahnya.
~
Aku menangis. Adakah yang tahu aku menangis?
Hanya udara malam yang begitu baik mau menemaniku.
Aku merasa kosong.
Terkadang, aku merasa aku ini hanya seonggok daging tak berupa. Segenggam pasir tak bertempayan. Aku tak punya bentuk, bahkan aku bukan udara sekali pun. Aku hanya merasa aku adalah hal terbodoh di dunia. Aku, aku, aku... Entahlah. Entah bagimana aku mendefinisikan diriku sendiri. Yang kutahu, aku ingin terbang. Lalu menemui mimpiku di penghujung senja, dari balik awan.
~
Hari ini aku harus terbang. Biar bagaimana pun aku harus melakukannya. Sekali saja dalam hidupku. Aku ingin merasakannya. Aku ingin melompat dari atas ketinggian, mengepakkan sayapku, terbang landai, menukik lalu menemui seseorang. Kamu.
Tapi tak kulakukan.
~
Hari ini begitu bersahabat.
Udaranya hangat. Aku dapat merasakan suara-suara yang tak biasa kudengar. Aku merpati! Aku ingin meneriakkan pada setiap orang yang kutemui di jalan beraspal. Aku ingin berteriak di telinga mereka, “Aku merpati!!!”
Tapi tak ada yang dapat mendengar. Tak ada satu pun yang peduli padaku. Tidak satu orang pun. Aku putus asa. Aku berbisik dalam hati, adakah yang mau membantuku? Sepertinya percuma.
Dalam keputusasaanku, aku mengedarkan pandanganku.
Aku melihat garis wajah yang sama. Aku melihat jaket yang sama. Aku melihat tatapan mata yang sama. Sama persis dengan yang kulihat saat itu.
~
Saat melihatmu, seluruh nyawaku kembali. Seluruh jiwaku yang ikut terbang bersamamu beberapa waktu yang lalu, kembali mendekapku. Semua tentangmu kembali menjalari setiap aliran darahku. Semua tentangmu mampu menghangatkanku. Dan semua tentangmu mampu membuatku tersenyum. Lagi.
Aku ingin menyentuh tanganmu. Hal yang belum pernah kulakukan. Aku ingin kembali duduk di dekatmu. Lalu menyandarkan tubuhku di punggungmu. Agar nafasku kembali lega. Agar mimpiku dapat terwujud. Tapi, maukah kau membantuku untuk mewujudkan mimpiku?
Aku tak ingin melepaskan pandanganku darimu. Aku tak peduli jika saat ini semua orang disekelilingku memperhatikan aku dengan pandangan mencela. Aku tidak peduli. Aku hanya peduli padamu. Aku ingin terus melihatmu. Seperti ini. Seperti ini selamanya. Aku bahkan berharap biarlah waktu berhenti saat ini. Saat aku hanya berjarak beberapa meter darimu.
Sebuah doa kecil mengalir begitu saja. Doa yang teruntai manis, mendambamu tetap untukku.
~
Semua bergerak. Aku terus bergerak. Kau pun bergerak. Semua bergerak, beranjak. Aku menjauh darimu. Semakin menjauh darimu.
Aku berdoa, semoga kau melihatku.
Semua bergerak. Aku semakin menjauh. Aku terus melihatmu.
Kini, kau menjadi sebuah titik di bawah langit mendung. Lalu kau menghilang. Dan aku menangis, dalam hati.
~
Malam ini aku sulit tidur. Pikiranku terus untukmu. Hanya untukmu. Padahal, semua itu semu. Padahal kau mungkin sama sekali tidak ingat aku.
~
Cinta pertama.
Kau adalah cinta pertamaku. Tak ada satu orang pun yang tahu akan hal itu. Perasaan yang selama ini selalu kusimpan sendiri. Sangat rapi. Bahkan terlalu rapi. Hingga kau belum pernah menyentuhnya sedikit pun. Entah karena kau tak tahu, atau memang kau tak pernah ingin tahu. Itu membuat perasaanku pupus tanpa sempat tersentuh. Namun kau membuatku pernah merasakan jatuh cinta, hingga hari ini. Hal itu yang paling penting.
~
10 Januari.
Itu tanggal lahirmu. Selalu kuingat hingga hari ini. Bahkan tanggal itu lebih istimewa jika dibandingkan dengan tanggal lahirku sendiri. Karena kau juga adalah laki-laki pertama yang menyakitiku. Semua tentangmu, aku ingat. Akan selalu kuingat.
~
Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku baru sadar, saat ini aku sendirian. Selalu sendirian, dan selalu seperti ini. Setiap hari.
Aku ingin kembali mengingatmu. Tapi itu semakin membuatku merasa sendiri. Dan itu menyakitkan.
Merpati. Aku adalah merpati. Seharusnya aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa terbang. Namun, mengingatmu telah banyak menyita waktuku. Aku ingin terbang. Aku ingin melompat dari atas ketinggian, mengepakkan sayapku, terbang landai, menukik lalu menemui seseorang. Aku ingin menemuimu, cinta pertamaku. Kamu.
~
Hingga hari ini, jika ada merpati yang tak punya sayap, maka merpati itu adalah aku. Jadi izinkan aku menangis untukmu, untuk terakhir kalinya. Karena, suatu hari nanti kau harus membayar mahal setiap tetes air mataku.
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar