Selasa, 25 Mei 2010

Namaku

Perempuan itu memanggilku Batosai. Tak pernah kutanyakan padanya apa alasan dia memanggilku dengan sebutan itu. Tidak penting. Aku bahkan baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu.
Aku masih ingat wajahnya ketika pertama kali kami bertemu. Dia bahkan terdiam beberapa saat hingga aku menyadarkannya dengan menanyakan siapa namanya. Sejak itu, setiap hari dia selalu menemuiku dengan seuntai senyum manis yang setelah kuperhatikan, senyum itu selalu dia sajikan pada setiap orang yang dia temui. Suaranya begitu renyah. Tawanya selalu membuat sisi lain di hatiku menjadi lebih nyaman. Jilbabnya begitu rapi menutupi auratnya.
~
Perempuan itu memiliki mata yang indah. Mata paling indah yang pernah kulihat. Bahkan jauh lebih indah dari mata emakku. Maaf Emak, tapi itu harus aku akui.
~
Pagi ini dia menemuiku dengan membawa sebuah kisah indah, baginya, bukan bagiku. Dia mengatakan padaku bahwa suatu hari nanti, jika di punggungnya tumbuh dua buah sayap, dia akan terbang menuju langit. Lalu dia akan duduk di atas awan. Bahkan dia akan mengambil segenggam awan untuk dilemparkannya padaku. Agar aku tersadar bahwa dia bisa terbang dan bermain di awan.
Ketika dia bercerita, aku memperhatikannya dengan penuh takjub. Di wajahnya ada banyak hal yang membuatku ingin tahu banyak tentangnya. Ketika dia bercerita, ada rasa yang mencuat dari sisi lain di hatiku. Memaksaku untuk tersenyum. Sungguh, dia begitu kekanakkan.
~
Beberapa bulan ini aku merasa hidupku selalu dikelilingi hal-hal baru. Aku tak pernah tahu dari mana hal-hal baru itu berasal. Meskipun, skripsi telah membuat laki-laki pemalas seperti aku harus belajar ekstra keras untuk mencari jurnal dan materi yang berkaitan dengan judul skripsiku. Tentu saja, aku harus lulus tahun ini. Maklum, semestinya aku sudah lulus tahun lalu. Tapi, ada banyak hal yang membuatku memutuskan untuk mengambil mata kuliah skripsi tahun ini.
~
Pagi ini aku melihatnya di perpustakaan. Perempuan itu duduk serius di antara tumpukan buku-buku akuntansi dan statistika untuk penelitian. Ada tiga buku yang terbuka pada halaman tertentu di hadapannya. Dari jauh, aku melihat jarinya yang kurus dan pajang menyusuri kalimat demi kalimat pada salah satu halaman buku. Tanpa sadar, aku ikut tersenyum ketika wajah perempuan itu seketika tersenyum simpul seolah telah menemukan sesuatu yang telah lama dia cari.
Aku berjalan ke arahnya. Kemudian aku berhenti di hadapannya, lalu duduk pada kursi yang berada tepat di depannya. “Assalamu’alaikum...” kataku mengucapkan salam pada perempuan dengan jilbab yang selalu rapi menutupi auratnya. Caranya mengenakan jilbab memang sangat sederhana. Tapi itu membuatnya terlihat begitu manis, begitu sempurna. Karena, dia tidak cantik.
~
Aku laki-laki berusia dua puluh tiga tahun. Namun aku masih sulit untuk menyelesaikan beberapa masalah dalam hidupku. Termasuk untuk skripsiku sendiri. Bahkan mendekati hari sidang skripsiku, aku masih belum menemukan teori-teori pendukung yang tepat. Hingga saat aku berada di perpustakaan, perempuan itu tiba-tiba duduk di sampingku.
“Apa yang masih kurang?” tanya perempuan itu dengan penuh semangat.
Setelah aku menceritakan semua kesulitan yang kuhadapi, perempuan itu berkata, “Tunggu sebentar.” Lalu dia menghilang di antara deretan rak-rak buku di ujung perpustakaan.
Tak lama menunggu, perempuan itu datang dengan membawa bertumpuk buku-buku tebal, bahkan ada beberapa yang berdebu. Kemudian dia menunjukkan padaku letak teori-teori yang kuperlukan untuk melengkapi skripsiku yang masih kurang dari buku-buku yang dibawanya.
Memang, ada beberapa teori yang tidak kumengerti. Bahkan ada yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Namun dengan penuh sabar, dia menjelaskannya satu per satu padaku. Dia begitu sabar melayani semua pertanyaanku. Hebatnya, dia bisa memecahkan semua kebingunganku.
Aku memperhatikan caranya menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Begitu serius, hati-hati, dan mendetail. Membuatku mengerti dan takjub padanya. Perempuan itu begitu berbeda dengan perempuan yang ketika itu bercerita tentang keinginannya memiliki sepasang sayap. Aku bahkan berpikir, mungkinkah dia memiliki dua dunia yang tersimpan rapi di kepalanya?
~
Sejak hari itu, perempuan itu selalu menanyakan padaku, “Apa yang masih kurang?” Maka, setiap aku menghadapi kesulitan, aku selalu bertanya padanya apakah dia mau membantuku. Dan dia selalu menjawab iya, tanpa perlu berpikir panjang. Hingga pada akhirnya, kami sama-sama lulus sidang skripsi. Meskipun perempuan itu lulus dengan nilai yang lebih baik dari aku.
Sampai pada suatu pagi, dia menemuiku tanpa senyumnya yang biasa kulihat. Jilbabnya terlihat sedikit berantakan, namun tak ada sehelai rambut pun yang terlihat. Seluruh auratnya tertutup, begitu sempurna. Meskipun pnempilannya agak sedikit kusut. Dia semakin tidak cantik.
Aku duduk di sampingya. Hanya duduk di sampingya, tanpa berkata apa-apa. Aku bingung, apa yang terjadi padanya? Wajahnya bahkan selalu dia tundukkan. Lalu aku mendengar suara yang begitu pelan dan hati-hati keluar dari bibirnya yang tipis.
“Batosai, apa kau tahu? Sudah begitu lama aku memperhatikanmu. Mungkin kau tak pernah sadar, kalau selama beberapa tahun ini ada sepasang mata yang selalu mengawasimu. Mungkin kau tak pernah merasa, bahwa ada hati yang bersorak gembira ketika sepasang mata itu melihatmu tersenyum. Meskipun senyum itu tidak kau tujukan pada sepasang mata itu.”
Aku diam.
“Kenapa kau begitu baik padaku, Batosai?”
Aku tetap diam.
“Kau memanfaatku. Benar? Kau baik padaku agar aku bisa membantumu menyelesaikan skripsimu? Iya? Kalau begitu, aku senang bisa membantumu.” Lalu dia pergi dengan senyum yang polos. Seakan semua bebannya hilang. Apakah kalimat itu yang membebaninya?
~
Hari ini aku melihatnya di ujung jalan.
Aku bergegas menghampirinya. Namun dia berlari, menjauh dariku.
~
Aku dan yang lain tengah bersiap-siap mengikuti gladi resik acara wisuda.
Setelah acara selesai, aku menunggunya di pintu keluar gedung. Aku berharap bisa menemuinya dan mengucapkan kata maaf yang belum sempat kuucapkan saat itu. Atau mungkin... aku justru lupa mengucapkan maaf? Ah, entahlah.
Aku melihatnya berjalanan tergesa-gesa menuju ke arahku. Aku sudah bersiap menyapanya. Namun, dengan setengah berlari, dia berjalan lurus melewati aku. Bahkan dia tidak melirikku sedikit pun.
~
Hari wisuda telah tiba. Aku dan yang lain tentu memiliki kebanggaan tersendiri mengenakan baju kebesaran kami, toga.
Ketika dia bergerak menuju podium untuk menerima ijazahnya, dia sempat melihat ke arahku. Tanpa berpikir panjang, aku memberikan senyum terbaikku untuknya. Karena selama ini, selalu dia yang tersenyum lebih dulu padaku. Tapi, apa kalian tahu? Perempuan itu diam saja. Aku melihat ada kekecewaan di matanya.
~
Aku ingin menemuinya. Aku ingin mengatakan padanya, “Namaku Ahmad. Aku laki-laki yang mulai mencintaimu.” Aku bahkan tak pernah tahu kenapa perempuan itu memanggilku Batosai. Padahal dia tahu, namaku Ahmad.
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar