Selasa, 25 Mei 2010

Karena Hatimu, Adalah Rumahku

Sendu. Begitulah caramu menatapku. Sebuah tatapan teduh yang membuatku merasa tak pernah sia-sia. Aku menemukan sebuah kenyamanan di matamu, juga di hatimu. Namun, kau begitu sedikit bicara. Hingga aku tak pernah tahu, apa yang kau rasakan. Aku juga tak pernah tahu sampai kapan aku harus menunggumu? Karena, aku mulai merasa lelah. Aku tak pernah bisa mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir tipismu. Maka, buatlah kalimat sederhana yang mudah kumengerti.
~
Hangat dan nyaman. Itulah kesanku saat pertama kali mengunjungi rumahmu. Rumah yang begitu penuh dengan keramah-tamahan dan penuh dengan kasih sayang. Kau persilakan aku duduk di kursi bambu tua yang berderit ketika kududuki. Kusentuh taplak meja yang dirajut apik menggunakan benang sulam terindah yang pernah kulihat.
Dengan senyum masih mengembang, kau menghampiriku dengan membawa secangkir teh hangat yang uapnya masih dapat kulihat jelas. Kemudian kau meletakkannya di samping vas bunga yang terbuat dari mozaik di atas meja.
Masih dengan senyum yang mengembang, kau mempersilakan aku untuk meminum secangkir teh yang baru saja kau buat. Manis. Manis sekali. Semanis wajahmu yang selalu membuatku nyaman. Wajah penuh senyum, wajah penuh kedamaian, seakan kau tak pernah menyimpan benci.
Ke mana pun aku pergi, aku akan selalu merasa berada di rumah ketika aku ada di dekatmu. Karena hatimu, adalah rumahku.
~
Kita mulai berbincang. Kau begitu sedikit bicara. Sementara aku selalu ingin tahu segala hal tentangmu.
Aku kembali menyeruput teh buatanmu. Sudah agak dingin. Tapi masih tetap manis. Semanis wajahmu. Ingin sekali aku jujur, kau begitu manis. Untukku, kau yang terbaik meskipun semua orang tak mengatakan hal yang sama denganku.
Rumahmu begitu membuatku nyaman. Dindingnya begitu putih bersih. Namun, di sudut kiri langit-langit rumahmu ada sarang laba-laba. Entah kenapa kau tak membersihkannya. Padahal, setahuku kau begitu bersih, begitu rapi. Aku begitu ingin tahu segala hal tentangmu. Termasuk, kenapa kau membiarkan sarang laba-laba itu tetap mengotori langit-langit rumahmu?
Bibir tipismu menjawab pertanyaanku dengan sederhana, “Semua akan indah pada tempatnya.”
Ya, jawaban yang sederhana. Namun, aku tidak mengerti dengan jawabanmu. Tapi sudahlah, aku ingin menikmati setiap sudut rumahmu. Rumah terindah yang pernah kusinggahi.
~
Kau mengajakku ke halaman belakang rumahmu. Di sana ada banyak bunga mawar. Ternyata, kau begitu menyukai tanaman. Aku menemukan banyak sekali bunga mawar. Bunga mawar terbanyak yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Semuanya berwarna putih. Seputih hatimu. Hati yang selalu membuat aku merasa sedang berada di rumah. Hatimu begitu nyaman untukku. Kau dan semua yang ada di dirimu membuatku nyaman.
Kau mempersilakan aku duduk di kursi besi berkarat yang tidak terawat dengan baik. Aku melihat beberapa bagian catnya mulai mengelupas. Sesekali, jika aku mengunjungi rumahmu lagi, aku berjanji akan membantumu untuk mengecatnya.
Dengan senyum yang selalu menghiasi bibirmu, kau pergi meninggalkan aku. Wajahku mulai pucat. Aku bingung. Kemana aku harus pergi? Rumahku ada di hatimu. Aku tak punya tempat pulang. Hanya kau tujuan hidupku, kau adalah tempatku pulang dan melepaskan semua penat yang menghadangku dalam kehidupan nyata.
~
Kecemasanku berakhir ketika langkah kecilmu berlari menghampiri aku. Kau tunjukkan setangkai bunga mawar putih terindah yang pernah kulihat. Kau memberikannya untukku. Hanya untukku. Mungkin, bagi orang lain yang melihatnya, bunga itu tampak biasa saja. Tapi bagiku, itu sangat istimewa. Karena kau yang memberikannya untukku.
Aku tak akan pernah menyesal memilihmu. Meskipun, sampai hari ini kau tak pernah berkata kau telah memilihku. Mungkin kau belum menyadari keberadaanku. Namun aku percaya suatu hari nanti kau akan memilihku, untuk jadi pendampingmu.
Karena, aku mau menemani hari tuamu. Kelak, aku mau mencintai kulit keriputmu. Aku mau menjadi penuntun langkah rapuhmu. Aku mau menyuapimu ketika kau telah renta. Aku mau menjadi selimutmu kala dingin menusuk tulang tuamu. Aku bersedia menjadi apapun yang kau mau. Aku siap, dan aku akan selalu ada untukmu.
~
Untuk pertama kalinya aku menyentuh bunga mawar pemberianmu. Harumnya melebihi apapun. Bentuknya lebih indah dari apapun.
Namun, tetap kau yang terindah. Melebihi apapun.
~
Langit telah menorehkan senyum jingganya di penghujung hari yang mulai senja. Dengan tatapan mata sendu, kau memintaku untuk pulang. Sungguh, aku masih ingin berada di sini. Di rumahmu. Rumah yang menjadi saksi kelahiranmu. Rumah yang membesarkan sosokmu hingga mampu memberikan sinar mata teduh, tidak hanya di mataku tapi juga di hatiku.
Sesaat sebelum aku melangkahkan kakiku keluar dari rumahmu, kau mengingatkan aku untuk menghabiskan teh manis yang masih tersisa.
Sungguh, dengan berat hati aku pulang.
Aku berjalan menuju pagar rumahmu yang sama berkaratnya dengan kursi besi yang ada di halaman belakang rumahmu. Halaman yang begitu sederhana. Di ujung sana, kulihat lampu taman tua dengan cahayanya yang temaram, namun mampu menghangatkan tanaman liar yang terawat dengan baik. Semua tanaman yang ada di rumahmu begitu terawat. Semuanya indah. Sekali pun itu tanaman liar. Karena terkadang, kau juga liar di mataku. Itu yang membuatmu semakin indah untukku.
~
Beberapa bulan setelah hari itu, kau tak pernah menghubungiku lagi. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?
~
Pagi ini aku melihatmu. Aku benar-benar melihatmu.
Seluruh tubuhku berteriak. Seisi tubuhku berdesakkan memaksa keluar. Ada sesuatu yang menjalari tubuhku.
Kau duduk sendiri di ujung ruangan. Tiga deretan kursi di sampingmu kosong. Aku ingin sekali berjalan ke arahmu. Duduk di salah satu kursi kosong di sampingmu. Lalu menghirup udara pagi yang sama.
Aku melihat baju hangat yang kau kenakan, warnanya abu-abu. Tas punggung berwarna biru tua kau letakkan begitu saja di atas pangkuanmu. Satu hal yang kupikirkan saat aku melihatmu. Semua kesederhanaanmu membuatku memilihmu sebagai rumahku, tempat aku pulang.
Jika saja aku punya sedikit keberanian, aku ingin berkata, “Pergilah ke mana pun kau ingin pergi. Namun, izinkan aku menghuni tempat terindah di dalam hatimu. Dan bawalah aku serta ke mana pun kau pergi, dalam hatimu.”
Namun, keberanian itu tak pernah ada. Aku terlalu takut. Aku takut jika aku mengatakan hal itu kau akan pergi meninggalkanku. Aku takut kehilanganmu. Padahal, sedetik pun aku tak pernah memilikimu.
~
Hari ini aku mencoba menemuimu. Aku berhasil. Kau kembali mengajakku untuk singgah ke rumahmu.
Untuk ke dua kalinya aku masuk ke dalam rumah yang hangat dan nyaman. Namun, ada sedikit yang berubah. Tak lagi kutemui sarang laba-laba di sudut kiri langit-langit rumahmu. Kali ini, aku tidak akan menanyakan alasannya. Karena, aku tak akan pernah bisa mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir tipismu. Aku tak akan pernah bisa membaca jalan pikiranmu. Terlalu rumit.
~
Saat ini aku duduk bersebelahan denganmu. Bahkan, sedekat ini pun aku tak bisa tahu apa yang kau rasakan.
Aku ingin tahu, saat ini apa yang membebanimu? Adakah yang membuatmu takut? Apa yang kau rasakan saat berada dekat denganku?
Kau terlalu sedikit bicara. Membuatku semakin sulit untuk mengenalmu. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu. Aku menginginkanmu. Tidak sadarkah kau selama ini? Kenapa kau diam saja?
Setiap saat aku selalu memberikanmu kabar tentang aku. Tentang gundahku, tentang resahku, tentang bahagiaku. Namun tak satu pun kau menganggap itu hal yang penting. Kau terus diam. Kau sedikit bicara. Padahal, begitulah caraku mencintaimu. Tidak sadarkah kau selama ini?
Namun, apa yang dapat kulakukan? Yang lebih bodoh. Aku pun hanya diam saja, tidak berusaha sedikit pun untuk memberikanmu pengertian tentang apa yang kurasakan padamu.
~
Kau berdiri. Menghilang di balik tirai berwarna coklat.
Kali ini aku sama sekali tidak merasa cemas. Karena aku yakin, kau pasti akan kembali menemuiku.
Benar saja. Sesaat kemudian kau kembali dengan membawa secangkir teh hangat. Kau mempersilakanku untuk meminumnya.
Rasanya masih sama. Manis. Semanis wajahmu.
Kapan semua ini akan berujung? Sementara aku tak pernah tahu kapan aku memulai. Yang aku tahu, aku mencintaimu. Namun, cukupkah semua rasa itu untuk bisa mendapatkan hatimu? Aku ingin kau tahu, semua yang ada padamu membuatku semakin nyaman. Dan aku bersedia menunggumu untuk waktu yang tak terhingga. Untuk cinta yang tak terbatas.
~
Ironi. Sebuah perasaan tak berbalas.
Itulah aku. Selalu saja begitu. Aku selalu kalah. Dan jika aku adalah pemenang, maka aku pulalah yang harus mengalah dan menanggalkan kemenangan itu. Kenapa tak ada satu pun cinta untukku?
~
Kembali memikirkanmu. Aku kembali memikirkanmu. Aku kembali memilikimu dan setiap mimpiku. Setidaknya itu hal paling menyenangkan untukku saat ini.
Aku berjalan menuju lemari di sudut kamarku. Perlahan kubuka pintunya. Kukeluarkan sebuah kotak hitam panjang. Kupandangi, begitu lama. Dengan sejuta putus asa, kubuka kotak itu. Kukeluarkan isinya. Sudah layu. Aku melihat bunga mawar putih yang dulu segar, kini layu.
Aku ingat saat kau memberikannya untukku. Begitu manis. Begitu indah. Caramu begitu sederhana. Tak ada satu pun kata kau ucapkan padaku saat kau berikan bunga mawar ini padaku. Namun, matamu yang sendu kala menatapku sudah cukup bagiku.
~
Tahukah kau? Ada sebuah rahasia kecil yang pernah kupunya sepanjang hidupku. Saat terindah dalam hidupku, adalah saat kau menemukanku. Kau mengangkatku begitu tinggi. Terlalu tinggi. Hingga aku tidak bisa bernafas. Namun, kau begitu membuatku nyaman. Saat berada di dekatmu, aku merasa sedang berada dalam suatu ruangan yang begitu hangat. Dapatkah kau meminjamiku hatimu? Dapakah aku menghuni hatimu? Aku ingin tinggal di dalam hatimu, selamanya.
~
Kabut masih menghalangi pandanganku pagi ini. Udaranya pun begitu dingin.
Maukah kau menemuiku besok? Itulah pertanyaanku untukmu hari ini.
Aku tak pernah menyangka kau akan berkata, “Iya.” Namun itu benar-benar kudengar. Jelas sekali. Dan nyata.
Dengan perasaan penuh, aku bersiap untuk menemuimu. Aku bahkan tak tidur semalaman. Kukenakan segala yang indah yang pernah aku punya. Namun, semuanya sia-sia begitu saja. Ketika kau memberi kabar melalui pesan singkat, bahwa kau tak bisa menemuiku karena ada keperluan yang lain.
Sepenting itukah keperluanmu? Lebih penting dari aku? Kenapa?
Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah menyusun kalimat yang indah yang akan kuucapkan saat bertemu denganmu. Tapi kenapa kau membatalkannya? Kenapa? Kumohon, beri aku satu alasan. Satu alasan saja.
Namun seperti biasa, kau selalu sedikit bicara. Apalagi, aku tak pernah bisa mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir tipismu. Aku tak pernah bisa mengerti, kenapa kau tiba-tiba berkata tidak? Padahal, kemarin kau sudah berjanji.
Aku memang tidak akan pernah mengerti dengan jalan pikiranmu. Terlalu sulit. Maka, buatlah kalimat sederhana yang mudah kumengerti. Beri aku alasan.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa terkadang sifat liarmu telah membuatku merasa hidup. Kesederhanaanmu membuatku nyaman. Sekali pun aku tak bisa menemuimu, aku percaya, hatimu tetap membuatku merasa nyaman. Karena, sejauh apa pun kau pergi, kau akan kembali untukku. Karena aku yakin kau pun telah tahu, bahwa hatimu adalah rumahku. Tempat aku pulang dan istirahat.
Selalu begitu. Aku akan selalu berpikir seperti itu. Aku akan selalu menanamkan dalam benakku bahwa hatimu adalah rumahku. Hingga aku benar-benar siap dan bisa menerima bahwa kau memang bukan untuk aku, saat ini, dan selamanya.
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar