Ketika dia tersenyum, semua mata memandang tajam ke arahnya. Seakan seluruh dunia ikut merasakan hangatnya setiap senyum yang teruntai manis dari bibirnya. Kemudian diam-diam semua mimpi telah dia kubur dalam-dalam. Bahkan terlalu dalam hingga dia harus selalu berpura-pura bahagia dan tampak tenang di hadapan semua orang yang dia temui. Ketika dia mulai merasa sanggup menghadapi semuanya, kemudian dia takut.
Entah siapa laki-laki itu. Yang jelas, saat ini dia begitu marah.
Diarahkannya senapan berlaras panjang itu ke kening seorang laki-laki yang duduk lemah dihadapannya. Dimaki, dicaci, diludahi, dan ditampar laki-laki itu olehnya tanpa henti. “Tak kubiarkan kau melakukan semua itu pada wanita lain. Dan cukup wanita itu saja yang kau sakiti!”
Diarahkannya senapan berlaras panjang itu ke kening seorang laki-laki yang kini memohon ampun padanya. Dan kemudian, matilah.
Alasan itu juga yang mungkin membuat orang-orang di sekitarnya hanya memandang sebelah mata padanya.
Ponselnya berdering. Bergegas dia menjawab panggilan di ponselnya.
Dilihatnya sebuah nama, Om Hermawan, memanggil. Dengan manja dia menjawab, “Ya, Om. Satu jam lagi Lila sampai. Hotel Berlian kamar 539, kan? – Ok!” Ponsel pun mati.
Lalu dia duduk, terdiam. Sesaat kemudian dengan cekatan dia meraih rokok dan korek di samping lampu tidur di atas meja yang sudah berkarat dimakan waktu.
Dia berjalan menuju garasi rumahnya.
Sebelum sampai di garasi, dia menyempatkan diri untuk memperhatikan setiap sudut di rumahnya. Semuanya berantakan. Tidak ada satu pun benda yang tersimpan rapi. Kalau pun ada, benda itu pasti dipenuhi debu, karena Lila enggan membersihkan rumahnya. Menurutnya, rumah yang dia tinggal sudah terlalu bersih. Bersih dari orang-orang. Karena hanya dia saja yang tinggal.
“Seharusnya, ada sedikit sentuhan seorang ibu di rumah ini,” Lila membatin. Rumah tempat Lila tinggal tidak begitu luas. Namun suasananya begitu sepi bahkan terlalu sepi. Sehingga rumah itu menjadi dingin, kaku, dan sama sekali tidak ramah.
Hanya ada sebuah mimpi yang selalu dia coba untuk dapat mewujudkannya. Sebuah mimpi untuknya dan juga untuk rumahnya.
Dia menginginkan akan ada sebuah hari dimana ibunya akan pulang dan dapat merawatnya serta membersihkan rumahnya. Dia menginginkan ibunya selalu ada untuk menyiapkan makan malam setelah dia lelah bekerja. Melarangnya melakukan hal ini dan itu demi kebaikannya. Juga memberinya sebuah cuiman di kening sebelum dia tertidur.
Atau mungkin, Lila ingin sesekali memijat lengan ibunya ketika kelelahan setelah sepanjang hari menunggu Lila pulang dari bekerja, atau setelah merajut baju hangat untuknya.
Namun jika mengingat keadaan ibunya saat ini, sepertinya hal itu menjadi tidak mungkin.
Sesaat kemudian, Lila teringat akan janjinya pada Om Hermawan. Seketika itu juga di melupakan dan mengubur dalam-dalam semua cita-citanya.
Jalanan mulai ramai pagi ini. Namun Lila tetap menyetir mobilnya tanpa kendali. Tentu saja sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Begitu cara Lila menikmati hidupnya.
“Inilah caraku.” Kalimat yang sama, yang selalu dia ucapkan pada setiap orang yang bertanya mengapa dia begini? Atau, mengapa dia begitu? Tapi hingga hari ini, hanya beberapa orang saja menanyakan hal itu padanya. Selebihnya, orang-orang itu tidak ingin tahu.
Dia sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya. Karena, dia selalu berpikir bahwa dunia pun tidak peduli dengannya. Yang dia tahu hanyalah ketika dia sendirian, tak ada satu pun yang berusaha untuk menemaninya dan mendengar keluh-kesahnya. Padahal, Lila hanya ingin didengar.
Lalu dia beranjak menuju ruangan yang selalu membuatnya merasa tenang di manapun dia berada. Kamar mandi. Dia menyalakan keran airnya. Menikmati dinginnya air yang kemudian akan mencairkan hatinya dan kemudian membuatnya lagi-lagi menangis.
Dua jam dia berada di kamar mandi – membasahi hatinya. Dia merasa cukup. Bergegas dia menyelesaikan semuanya. Sekarang saatnya dia pulang ke rumah.
Rumah yang membesarkannya dengan penuh tangis. Rumah yang menjadi saksi bahwa hidupnya begitu sulit. Dan rumah yang menjadi saksi, bahwa dulu pernah tinggal seorang wanita hebat yang dengan masa depan sederhana yang tertata rapi di benaknya. Namun kemudian porak poranda ketika semua yang membuat Lila terlahir dikenalnya. Wanita itu pula yang meletakkan bunga sedap malam di salah satu sudut rumahnya, belasan tahun yang lalu.
Senapan berlaras panjang itu memuntahkan pelurunya. Bunyi ledakkannya memekakkan telinga dua orang dengan satu darah. “Kau telah melukainya terlalu dalam! Jadi, belajarlah untuk mengenali hatimu sendiri!”
Laki-laki setengah baya yang dipanggilnya Om itu masih tak bergeming di ruangan dingin yang hanya berpenghuni dia seorang. Bukan menatapi langit-langit rumahnya yang sedikit berlubang karena peluru senapan berlaras panjang yang ditembakkan Lila. Tapi matanya nanar menatapi foto seorang wanita cantik namun polos mengenakan pakaian lusuh sambil menggendong bayi yang dia kenal sebagai anak yang tak pernah diakuinya.
Malam ini adalah malam paling menyedihkan baginya.
“Tapi aku bisa merasakan kau mengenali aku. Aku bisa merasakan kasih sayangmu. Tulus.
“Ibu, masih ku ingat jelas saat kau tiba-tiba menangis, menjerit, dan ketika kau ketakutan seolah-olah laki-laki yang pernah merampas satu-satunya harta yang kau miliki ada disekitarmu. Padahal saat itu tidak ada siapa pun, kecuali hanya ada aku dan kau.”
Air matanya mulai menetes. Namun, langit Jakarta semakin indah.
Lila semakin kesal, bahkan alam pun tidak peduli padanya. Tak adakah yang ingin mencoba mengenali hatinya?
“Dia, laki-laki yang kupanggil Om. Aku melihatnya. Dia menyimpan foto kita. Dia menyimpan foto kita di dompetnya.
“Dompetnya tertinggal di kamar hotel. Aku melihatnya, Ibu. Aku membencinya. Tapi percayalah, aku tak pernah menyesal terlahir dari rahimmu. Meski aku juga tak pernah tahu seberapa dalam luka hatimu. Karena dia telah membuatku lahir dari rahimmu yang pasti tak pernah menginginkanku sebelumnya. Dia juga yang membuatmu menjadi seperti sekarang.”
“Tuhan, kirimkan aku seseorang yang mau mengenali hatiku. Karena, aku ingin ada seseorang yang mau membaca setiap air mataku.”
Itu hal yang paling dibencinya. Meninggalkan sosok lusuh dengan pakaian melekat kumal di tubuh seorang wanita setengah baya. Wanita yang kecantikannya telah pudar termakan usia. Wanita berwajah pucat yang kehilangan keperawanannya dengan paksa. Wanita yang melahirkan Lila.
Wanita itu pula yang kini terduduk lemah di sudut bangsal nomor 23 Rumah Sakit Jiwa Jakarta.
~
Tak begitu jelas terlihat wajah laki-laki yang ada dihadapannya. Hingga dia pun tidak dapat mengenalinya. Namun, dia yakin laki-laki yang ada di hadapannya memiliki ikatan batin yang erat denganya.Entah siapa laki-laki itu. Yang jelas, saat ini dia begitu marah.
Diarahkannya senapan berlaras panjang itu ke kening seorang laki-laki yang duduk lemah dihadapannya. Dimaki, dicaci, diludahi, dan ditampar laki-laki itu olehnya tanpa henti. “Tak kubiarkan kau melakukan semua itu pada wanita lain. Dan cukup wanita itu saja yang kau sakiti!”
Diarahkannya senapan berlaras panjang itu ke kening seorang laki-laki yang kini memohon ampun padanya. Dan kemudian, matilah.
~
Lila namanya. Wanita cantik berperawakan ideal bagi seorang wanita. Namun masa lalunya begitu suram.Alasan itu juga yang mungkin membuat orang-orang di sekitarnya hanya memandang sebelah mata padanya.
~
Alarm di ponselnya menunjukkan tepat pukul sembilan pagi. Ya, dia biasa bangun jam sembilan pagi. Namun hari ini dia bangun lebih awal – tapi tidak – tepatnya dia tidak tidur semalam. Dia masih duduk tenang di bawah keran air di kamar mandi dengan air dingin menghujam deras seluruh tubuhnya. Tak begitu pandai air itu menutupi air matanya.Ponselnya berdering. Bergegas dia menjawab panggilan di ponselnya.
Dilihatnya sebuah nama, Om Hermawan, memanggil. Dengan manja dia menjawab, “Ya, Om. Satu jam lagi Lila sampai. Hotel Berlian kamar 539, kan? – Ok!” Ponsel pun mati.
Lalu dia duduk, terdiam. Sesaat kemudian dengan cekatan dia meraih rokok dan korek di samping lampu tidur di atas meja yang sudah berkarat dimakan waktu.
Dia berjalan menuju garasi rumahnya.
Sebelum sampai di garasi, dia menyempatkan diri untuk memperhatikan setiap sudut di rumahnya. Semuanya berantakan. Tidak ada satu pun benda yang tersimpan rapi. Kalau pun ada, benda itu pasti dipenuhi debu, karena Lila enggan membersihkan rumahnya. Menurutnya, rumah yang dia tinggal sudah terlalu bersih. Bersih dari orang-orang. Karena hanya dia saja yang tinggal.
“Seharusnya, ada sedikit sentuhan seorang ibu di rumah ini,” Lila membatin. Rumah tempat Lila tinggal tidak begitu luas. Namun suasananya begitu sepi bahkan terlalu sepi. Sehingga rumah itu menjadi dingin, kaku, dan sama sekali tidak ramah.
~
Lila masih berada di dalam rumahnya. Saat ini dia berdiri di tengah ruang keluarga. Ruangan yang seharusnya memberinya sebuah kehangatan sebuah keluarga. Tapi kehangatn itu belum pernah dia rasakan. Ruangan itu justru memberinya kenangan buruk. Bahkan, bunga sedap malam di salah satu sudut ruangan itu dibiarkannya mengering sejak belasan tahun yang lalu.Hanya ada sebuah mimpi yang selalu dia coba untuk dapat mewujudkannya. Sebuah mimpi untuknya dan juga untuk rumahnya.
Dia menginginkan akan ada sebuah hari dimana ibunya akan pulang dan dapat merawatnya serta membersihkan rumahnya. Dia menginginkan ibunya selalu ada untuk menyiapkan makan malam setelah dia lelah bekerja. Melarangnya melakukan hal ini dan itu demi kebaikannya. Juga memberinya sebuah cuiman di kening sebelum dia tertidur.
Atau mungkin, Lila ingin sesekali memijat lengan ibunya ketika kelelahan setelah sepanjang hari menunggu Lila pulang dari bekerja, atau setelah merajut baju hangat untuknya.
Namun jika mengingat keadaan ibunya saat ini, sepertinya hal itu menjadi tidak mungkin.
Sesaat kemudian, Lila teringat akan janjinya pada Om Hermawan. Seketika itu juga di melupakan dan mengubur dalam-dalam semua cita-citanya.
~
Lila segera menuju garasi dan bergegas pergi menemui laki-laki yang dipanggilnya Om.Jalanan mulai ramai pagi ini. Namun Lila tetap menyetir mobilnya tanpa kendali. Tentu saja sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Begitu cara Lila menikmati hidupnya.
“Inilah caraku.” Kalimat yang sama, yang selalu dia ucapkan pada setiap orang yang bertanya mengapa dia begini? Atau, mengapa dia begitu? Tapi hingga hari ini, hanya beberapa orang saja menanyakan hal itu padanya. Selebihnya, orang-orang itu tidak ingin tahu.
Dia sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya. Karena, dia selalu berpikir bahwa dunia pun tidak peduli dengannya. Yang dia tahu hanyalah ketika dia sendirian, tak ada satu pun yang berusaha untuk menemaninya dan mendengar keluh-kesahnya. Padahal, Lila hanya ingin didengar.
~
Tepat satu jam kemudian dia sampai di tempat yang dijanjikan laki-laki yang dipanggilnya Om.~
Lila terbangun tepat saat alarm di ponselnya berbunyi. Meja di samping tempat tidurnya dipenuhi dengan botol-botol minuman bermerek dengan dua gelas yang salah satunya tergeletak-di lantai tak beraturan.Lalu dia beranjak menuju ruangan yang selalu membuatnya merasa tenang di manapun dia berada. Kamar mandi. Dia menyalakan keran airnya. Menikmati dinginnya air yang kemudian akan mencairkan hatinya dan kemudian membuatnya lagi-lagi menangis.
Dua jam dia berada di kamar mandi – membasahi hatinya. Dia merasa cukup. Bergegas dia menyelesaikan semuanya. Sekarang saatnya dia pulang ke rumah.
Rumah yang membesarkannya dengan penuh tangis. Rumah yang menjadi saksi bahwa hidupnya begitu sulit. Dan rumah yang menjadi saksi, bahwa dulu pernah tinggal seorang wanita hebat yang dengan masa depan sederhana yang tertata rapi di benaknya. Namun kemudian porak poranda ketika semua yang membuat Lila terlahir dikenalnya. Wanita itu pula yang meletakkan bunga sedap malam di salah satu sudut rumahnya, belasan tahun yang lalu.
~
Berlembar-lembar rupiah yang dipuja-puja banyak orang – bahkan sanggup membuat seorang wanita melepaskan keperawanannya – tergeletak di atas selimut tebal yang menghangatkannya ketika dia memberikan kelaminnya pada laki-laki yang dipanggilnya Om.~
“Jangan pernah menangis dihadapanku. Karena aku tak akan pernah iba padamu. Pecundang! Apa pernah kau iba pada wanita itu? Tak pernahkah kau merasa kasihan? Atau mungkin kau lupa bagaimana cara menggunakan hatimu?! Pernahkah terpikirkan ketika dia bersusah payah mempertahankan aku? Ketika dia meronta meregang nyawa untuk melahirkan aku? Jijik aku harus terlahir sebagai anakmu! Dan dimimpi itu, aku melakukan hal yang lebih menyakitkan dari ini!”Senapan berlaras panjang itu memuntahkan pelurunya. Bunyi ledakkannya memekakkan telinga dua orang dengan satu darah. “Kau telah melukainya terlalu dalam! Jadi, belajarlah untuk mengenali hatimu sendiri!”
~
Tanpa berpikir panjang, Lila berlari menuju mobilnya dan tergesa-gesa menenangkan diri dengan menghisap sebatang rokok.Laki-laki setengah baya yang dipanggilnya Om itu masih tak bergeming di ruangan dingin yang hanya berpenghuni dia seorang. Bukan menatapi langit-langit rumahnya yang sedikit berlubang karena peluru senapan berlaras panjang yang ditembakkan Lila. Tapi matanya nanar menatapi foto seorang wanita cantik namun polos mengenakan pakaian lusuh sambil menggendong bayi yang dia kenal sebagai anak yang tak pernah diakuinya.
~
Langit Jakarta malam ini membuatnya semakin marah. Dia melihat bintang bertaburan menyala terang. Sinar bulan yang hangat membuat banyak orang menghabiskan malam ini dengan bersenang-senang. Namun tidak dengan Lila.Malam ini adalah malam paling menyedihkan baginya.
~
“Begitu jelas kuingat saat kau berusaha mencari uang untuk membelikanku pakaian seragam, agar aku bisa memakai seragam merah putih di hari pertamaku bersekolah. Padahal aku tahu, kau bahkan tidak ingat siapa dirimu. Mungkin kau pun tak pernah merasakan duduk di bangku sekolah meskipun hanya satu hari.“Tapi aku bisa merasakan kau mengenali aku. Aku bisa merasakan kasih sayangmu. Tulus.
“Ibu, masih ku ingat jelas saat kau tiba-tiba menangis, menjerit, dan ketika kau ketakutan seolah-olah laki-laki yang pernah merampas satu-satunya harta yang kau miliki ada disekitarmu. Padahal saat itu tidak ada siapa pun, kecuali hanya ada aku dan kau.”
Air matanya mulai menetes. Namun, langit Jakarta semakin indah.
Lila semakin kesal, bahkan alam pun tidak peduli padanya. Tak adakah yang ingin mencoba mengenali hatinya?
“Dia, laki-laki yang kupanggil Om. Aku melihatnya. Dia menyimpan foto kita. Dia menyimpan foto kita di dompetnya.
“Dompetnya tertinggal di kamar hotel. Aku melihatnya, Ibu. Aku membencinya. Tapi percayalah, aku tak pernah menyesal terlahir dari rahimmu. Meski aku juga tak pernah tahu seberapa dalam luka hatimu. Karena dia telah membuatku lahir dari rahimmu yang pasti tak pernah menginginkanku sebelumnya. Dia juga yang membuatmu menjadi seperti sekarang.”
~
Jakarta hampir pagi. Namun Lila belum puas menangis. Dia masih duduk di roof top sebuah perkantoran.“Tuhan, kirimkan aku seseorang yang mau mengenali hatiku. Karena, aku ingin ada seseorang yang mau membaca setiap air mataku.”
~
Lila tak berhasil menyentuh wajah pucatnya. Bahkan yang dia terima hanya teriakkan memekakkan telinga, yang lagi-lagi membuatnya menangis.~
Melangkah keluar.Itu hal yang paling dibencinya. Meninggalkan sosok lusuh dengan pakaian melekat kumal di tubuh seorang wanita setengah baya. Wanita yang kecantikannya telah pudar termakan usia. Wanita berwajah pucat yang kehilangan keperawanannya dengan paksa. Wanita yang melahirkan Lila.
Wanita itu pula yang kini terduduk lemah di sudut bangsal nomor 23 Rumah Sakit Jiwa Jakarta.
~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar