Adakah yang tahu kalau aku begitu membenci malam? Ada alasan kecil yang membuat aku begitu membenci setiap malam yang aku lalui. Setiap malam aku selalu merasa takut. Takut karena aku tidak sanggup membayangkan jika aku tidak akan pernah bisa terbangun lagi. Aku juga takut, jika hari ini adalah hari terakhirku. Aku takut tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit di pagi hari yang segar. Tapi, ada juga hal yang begitu kusukai saat malam tiba, bintang yang kulihat dari balik jendela...
~
Malam ini, aku tidak bisa tidur. Meskipun aku mencoba menutup mataku, aku masih merasa belum mengantuk.
Aku masih berbaring di atas tempat tidur. Jendela kamarku belum tertutup. Aku masih ingin melihat bintang. Aku masih ingin bercerita banyak; tentang aku, tentang hidupku, tentang masa depanku, dan tentang mimpiku. Aku ingin menitikkan air mata jika aku ingat begitu banyak bebanku. Usiaku masih empat belas tahun. Tapi aku merasa aku sudah lebih lebih dewasa jika dibandingkan dengan teman-teman seusiaku.
Aku dewasa sebelum waktunya.
Dan hanya bintang yang setia mendampingi kedewasaanku. Teman berceritaku.
Aku masih berbaring di atas tempat tidur. Jendela kamarku belum tertutup. Aku masih ingin melihat bintang. Aku masih ingin bercerita banyak; tentang aku, tentang hidupku, tentang masa depanku, dan tentang mimpiku. Aku ingin menitikkan air mata jika aku ingat begitu banyak bebanku. Usiaku masih empat belas tahun. Tapi aku merasa aku sudah lebih lebih dewasa jika dibandingkan dengan teman-teman seusiaku.
Aku dewasa sebelum waktunya.
Dan hanya bintang yang setia mendampingi kedewasaanku. Teman berceritaku.
~
Pagi ini tidak ada yang membuatku tersenyum. Semua berjalan wajar, seperti biasanya. Aku terbangun karena memang aku tidak pernah bisa tidur nyenyak.
Setiap aku tidur, selalu ada yang aku khawatirkan. Setiap aku akan tidur, selalu ada resah yang membuatku sulit memejamkan mata. Karena aku takut saat pagi tiba, aku sudah tidak tidak ada di dunia. Aku takut, aku tidak bisa bangun lagi.
Setiap aku tidur, selalu ada yang aku khawatirkan. Setiap aku akan tidur, selalu ada resah yang membuatku sulit memejamkan mata. Karena aku takut saat pagi tiba, aku sudah tidak tidak ada di dunia. Aku takut, aku tidak bisa bangun lagi.
~
Kubuka jendela pagi ini. Kulihat senyum terpancar dari seseorang yang kukenal.
Setiap hari, aku selalu melihatnya dari balik jendela. Melihatnya, membuat aku mempunyai harapan. Aku membayangkan, seandainya dia mau menemani aku tidur. Mungkin tidurku akan lebih tenang. Tapi sayang, dia tidak mengenalku.
Kusisir rambutku yang panjang. Kuikat menjadi dua bagian. Setelah mengikat rambut, aku kembali duduk di samping jendela kamarku. Tapi, seseorang itu sudah tidak tidak ada. Tapi aku tidak khawatir, nanti sore aku pasti akan melihatnya kembali.
Setiap hari, aku selalu melihatnya dari balik jendela. Melihatnya, membuat aku mempunyai harapan. Aku membayangkan, seandainya dia mau menemani aku tidur. Mungkin tidurku akan lebih tenang. Tapi sayang, dia tidak mengenalku.
Kusisir rambutku yang panjang. Kuikat menjadi dua bagian. Setelah mengikat rambut, aku kembali duduk di samping jendela kamarku. Tapi, seseorang itu sudah tidak tidak ada. Tapi aku tidak khawatir, nanti sore aku pasti akan melihatnya kembali.
~
Udara sore ini agak panas. Aku berkeringat. Aku ingin sekali mengambil sapu tangan di atas meja. Tapi aku tidak bisa mengambilnya. Aku tidak bisa berjalan. Selama ini aku hanya mengandalkan kursi roda usang peninggalan kakekku. Tapi sekarang, kursi roda itu telah rusak. Aku, tidak bisa menggunakannya lagi.
Aku ingin pergi keluar. Menyapa seseorang yang selalu kunanti setiap pagi dan sore. Lalu berkenalan dengannya. Tapi aku tidak bisa. Aku malu. Aku takut. Padahal aku sudah sangat lama ingin mengenalnya. Aku ingin dia menjadi temanku. Teman setiaku. Karena, selama ini hanya jendela yang keropos termakan rayap inilah yang jadi temanku. Aku sendirian, dan aku butuh teman bicara.
Ibuku sudah meninggal empat belas tahun yang lalu, beberapa saat setelah melahirkan aku. Ayahku pergi entah kemana setelah mengetahui aku cacat. Kakekku meninggal sepuluh tahun yang lalu. Saat ini aku tinggal seorang diri. Setiap hari aku hanya mengandalkan bantuan dari tanteku, yang pasti mengunjungiku untuk memberiku makan.
Bila tiba waktu malam, aku merasa seperti seekor anak macan yang terkurung di pusat pemeliharaan hewan. Tidak bisa melakukan apapun. Aku seperti sebatang kayu usang, yang akan berharga jika ada orang yang mau membakarnya. Tapi aku bukan kayu. Maka aku tidak akan pernah berharga untuk siapa pun.
Aku ingin pergi keluar. Menyapa seseorang yang selalu kunanti setiap pagi dan sore. Lalu berkenalan dengannya. Tapi aku tidak bisa. Aku malu. Aku takut. Padahal aku sudah sangat lama ingin mengenalnya. Aku ingin dia menjadi temanku. Teman setiaku. Karena, selama ini hanya jendela yang keropos termakan rayap inilah yang jadi temanku. Aku sendirian, dan aku butuh teman bicara.
Ibuku sudah meninggal empat belas tahun yang lalu, beberapa saat setelah melahirkan aku. Ayahku pergi entah kemana setelah mengetahui aku cacat. Kakekku meninggal sepuluh tahun yang lalu. Saat ini aku tinggal seorang diri. Setiap hari aku hanya mengandalkan bantuan dari tanteku, yang pasti mengunjungiku untuk memberiku makan.
Bila tiba waktu malam, aku merasa seperti seekor anak macan yang terkurung di pusat pemeliharaan hewan. Tidak bisa melakukan apapun. Aku seperti sebatang kayu usang, yang akan berharga jika ada orang yang mau membakarnya. Tapi aku bukan kayu. Maka aku tidak akan pernah berharga untuk siapa pun.
~
Aku membuka jendela pagi ini. Aku senang, karena seseorang itu mencubit dengan gemas seorang anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan permen pada ibunya.
Aku memperhatikan seseorang itu sampai dia menghilang di ujung jalan. Jalan yang sempit ini membuat aku mudah untuk melihatnya dari dekat. Terkadang, aku merasa beruntung, karena dihidupku yang sederhana ini, aku masih punya harapan. Bukan harapan untuk hidup. Tapi harapan untuk bisa tahu nama seseorang itu. Namanya saja. Aku ingin tahu namanya.
Agar saat malam tiba, aku bisa memberitahukan namanya pada bintang jatuh. Lalu aku membuat permohonan pada bintang jatuh agar mau memperkenalkan aku pada seseorang itu.
Aku memperhatikan seseorang itu sampai dia menghilang di ujung jalan. Jalan yang sempit ini membuat aku mudah untuk melihatnya dari dekat. Terkadang, aku merasa beruntung, karena dihidupku yang sederhana ini, aku masih punya harapan. Bukan harapan untuk hidup. Tapi harapan untuk bisa tahu nama seseorang itu. Namanya saja. Aku ingin tahu namanya.
Agar saat malam tiba, aku bisa memberitahukan namanya pada bintang jatuh. Lalu aku membuat permohonan pada bintang jatuh agar mau memperkenalkan aku pada seseorang itu.
~
Sore ini, aku sudah bersiap untuk duduk manis di depan jendela. Aku bersiap menunggu kedatangan seseorang itu. Tepatnya, aku bersiap menunggu seseorang itu melewati jalan di depan rumahku.
Aku menunggu.
Dua jam sudah berlalu, dan aku masih duduk menunggu.
Kemana? Kemana seseorang itu? Kenapa dia belum lewat? Padahal udara malam sangat tidak baik untukku. Untuk seseorang yang sakit-sakitan. Seseorang yang lumpuh, dan bersiap menunggu kematian.
Apakah aku merindukannya? Tapi, usiaku baru empat belas tahun.
Aku menunggu.
Dua jam sudah berlalu, dan aku masih duduk menunggu.
Kemana? Kemana seseorang itu? Kenapa dia belum lewat? Padahal udara malam sangat tidak baik untukku. Untuk seseorang yang sakit-sakitan. Seseorang yang lumpuh, dan bersiap menunggu kematian.
Apakah aku merindukannya? Tapi, usiaku baru empat belas tahun.
~
Aku masih duduk di depan jendela. Masih menunggu seseorang itu lewat di depan rumahku.
Adakah seseorang yang tahu? Betapa berartinya seseorang itu untukku? Sama seperti berharganya jendela ini untukku. Jendela ini telah menjadi media untuk aku agar bisa melihat seseorang yang mampu membuatku senang. Meski hanya dengan satu senyumnya saja. Meski aku tahu senyum itu bukan untukku.
Adakah seseorang yang tahu? Betapa berartinya seseorang itu untukku? Sama seperti berharganya jendela ini untukku. Jendela ini telah menjadi media untuk aku agar bisa melihat seseorang yang mampu membuatku senang. Meski hanya dengan satu senyumnya saja. Meski aku tahu senyum itu bukan untukku.
~
Pagi yang dingin. Aku begitu menyukai pagi. Karena, itu artinya aku masih punya harapan untuk bisa melihat seseorang itu.
Karena, setiap waktu aku selalu merasa takut.
Setiap malam, aku selalu merasa takut jika hari ini adalah hari terakhirku. Aku takut tidak bisa lagi melihat matahari terbit dari balik jendela. Aku takut tidak bisa menghirup udara pagi yang membuatku tenang.
Hidupku penuh dengan ketakutan. Aku selalu takut.
Karena, setiap waktu aku selalu merasa takut.
Setiap malam, aku selalu merasa takut jika hari ini adalah hari terakhirku. Aku takut tidak bisa lagi melihat matahari terbit dari balik jendela. Aku takut tidak bisa menghirup udara pagi yang membuatku tenang.
Hidupku penuh dengan ketakutan. Aku selalu takut.
~
Malam ini aku mencoba untuk berdiri. Aku harus bisa berdiri. Karena, jika besok aku masih diberi kesempatan untuk hidup, aku ingin menyapa seseorang itu di pintu rumahku. Bukan hanya melihatnya dari balik jendela saja. Karena, aku ingin tahu namanya.
Aku mencoba. Berulang kali kucoba untuk berdiri. Hanya berdiri. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa berdiri.
Aku mencoba. Berulang kali kucoba untuk berdiri. Hanya berdiri. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa berdiri.
~
Kubuka mataku pagi ini. Aku masih hidup. Masih dengan kakiku yang tidak bisa digerakkan.
Aku berusaha meraih baju hangatku. Aku menyeret tubuhku sebisa mungkin agar aku bisa sampai di kursi. Kursi yang juga menemaniku saat aku melihat seseorang dari balik jendela.
Aku berusaha meraih baju hangatku. Aku menyeret tubuhku sebisa mungkin agar aku bisa sampai di kursi. Kursi yang juga menemaniku saat aku melihat seseorang dari balik jendela.
~
Sepanjang hari aku terus berusaha agar aku bisa berdiri. Usahaku tidak sia-sia. Aku bisa berdiri. Akhirnya aku bisa melakukan hal yang luar biasa. Aku senang. Senang sekali. Sekarang harapanku benar-benar akan terwujud. Malam ini aku tidak akan tidur. Karena aku harus memastikan besok pagi aku masih hidup.
Sekarang aku berani mengakui kalau aku jatuh cinta. Karena aku bisa berdiri. Dan aku tidak perlu malu lagi pada seseorang itu. Meskipun selama ini, cintaku hanya sebatas melihatnya dari jauh. Cintaku hanya sebatas helaian bulu angsa yang diterbangkan angin tanpa tahu dimana akan berlabuh. Tapi saat ini, aku akan pastikan cintaku akan sampai di tempatnya.
Sekarang aku berani mengakui kalau aku jatuh cinta. Karena aku bisa berdiri. Dan aku tidak perlu malu lagi pada seseorang itu. Meskipun selama ini, cintaku hanya sebatas melihatnya dari jauh. Cintaku hanya sebatas helaian bulu angsa yang diterbangkan angin tanpa tahu dimana akan berlabuh. Tapi saat ini, aku akan pastikan cintaku akan sampai di tempatnya.
~
Aku tidak tidur. Aku takut kesempatanku akan hilang jika aku tidur. Karena aku tak pernah tahu apakah besok masih ada kesempatan untukku.
Aku terus memandangi langit malam ini. Dibalik kebencianku pada malam, terselip sedikit harapanku setiap malam. Karena hanya malam yang memiliki bintang. Dan hanya bintang yang setia memberiku sinar disaat aku merasa takut kalau aku tidak diberi kesempatan untuk menikmati pagi.
Aku ingin seseorang itu tahu, bahwa aku begitu menyukai bintang. Aku juga menyukai jendela rumahku.
Aku terus memandangi langit malam ini. Dibalik kebencianku pada malam, terselip sedikit harapanku setiap malam. Karena hanya malam yang memiliki bintang. Dan hanya bintang yang setia memberiku sinar disaat aku merasa takut kalau aku tidak diberi kesempatan untuk menikmati pagi.
Aku ingin seseorang itu tahu, bahwa aku begitu menyukai bintang. Aku juga menyukai jendela rumahku.
~
Udara pagi ini terasa lebih segar dari biasanya. Langit pagi ini juga tampak lebih cerah dari biasanya. Embunnya pun lebih bersahaja dibandingkan biasanya.
Aku bersiap dengan pakaian terbaikku yang pernah aku punya. Aku kembali menyeret tubuhku hingga aku berhasil sampai di depan pintu.
Kuraih gagang pintu tua semampuku.
Pintu terbuka lebar. Angin yang berhembus begitu segar. Meskipun sedikit perih mengenai mata dan wajahku, aku tetap merasa pagi ini adalah pagi paling indah disepanjang hidupku.
Kuhirup udara pagi ini sekuat tenagaku. Aku menghembuskannya perlahan seiring dengan usahaku untuk kembali mencoba berdiri. Aku tidak bisa berdiri. Kenapa? Akan kucoba lagi. Tapi aku tetap tidak bisa berdiri. Kenapa, kemarin aku bisa? Ada apa dengan pagi ini?
Semua tiba-tiba berubah menjadi buruk. Semuanya menjadi menyebalkan. Semuanya menyiksaku. Termasuk perasaanku pada seseorang itu. Kenapa cinta ini begitu menyiksaku?
Aku hanya ingin berdiri, sebentar saja. Aku ingin menyapa seseorang itu, lalu menanyakan namanya. Itu saja. Apa itu terlalu berlebihan untukku?
Aku bersiap dengan pakaian terbaikku yang pernah aku punya. Aku kembali menyeret tubuhku hingga aku berhasil sampai di depan pintu.
Kuraih gagang pintu tua semampuku.
Pintu terbuka lebar. Angin yang berhembus begitu segar. Meskipun sedikit perih mengenai mata dan wajahku, aku tetap merasa pagi ini adalah pagi paling indah disepanjang hidupku.
Kuhirup udara pagi ini sekuat tenagaku. Aku menghembuskannya perlahan seiring dengan usahaku untuk kembali mencoba berdiri. Aku tidak bisa berdiri. Kenapa? Akan kucoba lagi. Tapi aku tetap tidak bisa berdiri. Kenapa, kemarin aku bisa? Ada apa dengan pagi ini?
Semua tiba-tiba berubah menjadi buruk. Semuanya menjadi menyebalkan. Semuanya menyiksaku. Termasuk perasaanku pada seseorang itu. Kenapa cinta ini begitu menyiksaku?
Aku hanya ingin berdiri, sebentar saja. Aku ingin menyapa seseorang itu, lalu menanyakan namanya. Itu saja. Apa itu terlalu berlebihan untukku?
~
Menangis. Aku ingin sekali menangis. Biar semua orang tahu, air mataku ini adalah harga yang harus aku bayar untuk sebuah keinginan. Sebuah keinginan untuk tahu nama seseorang yang selalu kunanti setiap pagi dan sore dari balik jendela. Tapi percuma. Sekeras apapun suara tangisanku tidak akan mengubah apapun. Aku tetap begini. Tetap tidak akan pernah bisa berdiri.
~
Kembali kuseret tubuh kurusku, semampuku. Sekuat tenaga kuangkat tubuhku untuk dapat duduk di atas kursi di balik jendela.
Saat ini aku benar-benar menangis. Aku ingin sekali meyakinkan diriku kalau aku masih punya harapan. Kalau hidupku tidak hanya dipenuhi dengan kepedihan. Tapi aku adalah kerdil yang ditakdirkan untuk tidak mampu melakukan apapun. Dan tidak sanggup untuk memiliki apapun. Kerdil seperti aku hanya diberi satu titipan, kepedihan. Itu saja.
Terlambat. Seseorang itu sudah berlalu. Saat ini aku hanya bisa melihat punggungnya saja. Meski begitu, besok akan kucoba sekali lagi. Untuk terakhir kalinya. Aku janji.
Saat ini aku benar-benar menangis. Aku ingin sekali meyakinkan diriku kalau aku masih punya harapan. Kalau hidupku tidak hanya dipenuhi dengan kepedihan. Tapi aku adalah kerdil yang ditakdirkan untuk tidak mampu melakukan apapun. Dan tidak sanggup untuk memiliki apapun. Kerdil seperti aku hanya diberi satu titipan, kepedihan. Itu saja.
Terlambat. Seseorang itu sudah berlalu. Saat ini aku hanya bisa melihat punggungnya saja. Meski begitu, besok akan kucoba sekali lagi. Untuk terakhir kalinya. Aku janji.
~
Sepanjang malam kucoba untuk berdiri. Aku harus bisa berdiri.
Di luar sana langit masih anggun dengan warna kelabunya. Angin masih berhembus kencang seiring derak ranting-ranting pohon di halaman rumahku. Bintang, dia masih setia menatapku dengan sinar penuh dari balik jendela.
Ini adalah usaha dari tenaga terakhirku. Aku sudah lelah. Tubuhku berkeringat. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku terlalu lelah. Aku terduduk lemah di lantai kamarku. Aku menangis lagi.
Di luar sana langit masih anggun dengan warna kelabunya. Angin masih berhembus kencang seiring derak ranting-ranting pohon di halaman rumahku. Bintang, dia masih setia menatapku dengan sinar penuh dari balik jendela.
Ini adalah usaha dari tenaga terakhirku. Aku sudah lelah. Tubuhku berkeringat. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku terlalu lelah. Aku terduduk lemah di lantai kamarku. Aku menangis lagi.
~
Kutegakkan wajahku dari balik pintu. Kembali kuraih gagang pintu yang semakin berkarat. Aku masih belum membuka pintu rumahku. Aku harus memastikan kalau aku bisa berdiri.
Kubuka pintu rumahku sambil kucoba untuk berdiri. Tapi usahaku kembali gagal. Oh, aku benar-benar bodoh! Aku tidak akan pernah bisa berdiri!
Kubuka pintu rumahku sambil kucoba untuk berdiri. Tapi usahaku kembali gagal. Oh, aku benar-benar bodoh! Aku tidak akan pernah bisa berdiri!
~
Hari ini aku tidak akan mencoba untuk berdiri dan menyapa seseorang itu. Keinginanku untuk bisa tahu nama seseorang itu pun sudah kandas seiring dengan kegagalan usahaku untuk bisa berdiri.
Selama ini aku sudah merasa bahagia bisa melihatnya dari balik jendela. Sesuai janjiku, aku tidak akan berusaha untuk berdiri lagi. Karena, aku memang begini. Cacat.
Maka, aku akan melihatnya dari balik jendela saja.
Selama ini aku sudah merasa bahagia bisa melihatnya dari balik jendela. Sesuai janjiku, aku tidak akan berusaha untuk berdiri lagi. Karena, aku memang begini. Cacat.
Maka, aku akan melihatnya dari balik jendela saja.
~
Anak-anak kecil masih berusaha menggiring bola. Mereka bermain bola di halaman rumahku. Jika aku bisa berjalan, aku pasti akan menemani mereka bermain bola. Aku juga ingin memegang bola. Aku belum pernah menyentuh benda bundar itu. Aku belum pernah menyentuh bola, sekali pun.
Seorang anak menendang bola ke arah temannya. Tapi tendangannya meleset. Bolanya mengarah padaku. Bolanya terlempar keras ke jendela rumahku. Serpihan kacanya mengenai tanganku yang mencoba menyelamatkan wajahku. Aku berteriak, kaget.
Kemudian seseorang berlari ke arahku. Dia menanyakan keadaanku. Dia memegang tanganku, lalu memeriksa lukaku dengan cermat.
Aku kaget. Kutarik tanganku dari pegangannya. Namun dia menarik kembali tanganku dari balik jendela yang kacanya telah pecah dan berserakkan di lantai. “Aku harus memeriksa lukanya. Maafkan anak-anak itu, mereka tidak sengaja.” Ucap seseorang itu, ramah.
Oh! Jantungku berdegup kencang. Seseorang yang saat ini sedang membersihkan lukaku dari serpihan kaca adalah seseorang yang selama ini ingin kukenal.
Hari ini aku tersenyum. Aku senang. Aku bahagia. Aku tidak perlu berdiri di depan pintu untuk menyapanya. Karena, saat ini dialah yang menghampiriku. Dan dia pula yang memegang tanganku untuk mengobati lukaku.
Aku hanya tersenyum menanggapi setiap perkataannya. Aku juga tersenyum melihat setiap gerakan cekatannya mengobati lukaku. Akhirnya aku tahu namanya, setelah dia memperkenalkan diri padaku, “Aku Randu...,” dari balik jendela.
Seorang anak menendang bola ke arah temannya. Tapi tendangannya meleset. Bolanya mengarah padaku. Bolanya terlempar keras ke jendela rumahku. Serpihan kacanya mengenai tanganku yang mencoba menyelamatkan wajahku. Aku berteriak, kaget.
Kemudian seseorang berlari ke arahku. Dia menanyakan keadaanku. Dia memegang tanganku, lalu memeriksa lukaku dengan cermat.
Aku kaget. Kutarik tanganku dari pegangannya. Namun dia menarik kembali tanganku dari balik jendela yang kacanya telah pecah dan berserakkan di lantai. “Aku harus memeriksa lukanya. Maafkan anak-anak itu, mereka tidak sengaja.” Ucap seseorang itu, ramah.
Oh! Jantungku berdegup kencang. Seseorang yang saat ini sedang membersihkan lukaku dari serpihan kaca adalah seseorang yang selama ini ingin kukenal.
Hari ini aku tersenyum. Aku senang. Aku bahagia. Aku tidak perlu berdiri di depan pintu untuk menyapanya. Karena, saat ini dialah yang menghampiriku. Dan dia pula yang memegang tanganku untuk mengobati lukaku.
Aku hanya tersenyum menanggapi setiap perkataannya. Aku juga tersenyum melihat setiap gerakan cekatannya mengobati lukaku. Akhirnya aku tahu namanya, setelah dia memperkenalkan diri padaku, “Aku Randu...,” dari balik jendela.
~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar