Selasa, 25 Mei 2010

Laila Al Ghazali

Namaku Edwin. Dan aku masih terduduk diam di salah satu sudut perpustakaan sejak pagi tadi, dengan setumpuk buku tentang Muhammad saw. Ah, sudah sekitar empat jam aku menunggunya. Tapi dia tak juga datang ke tempat ini. Tak tahukah dia jika saat ini aku benar-benar menunggunya?
~
Aku menyebutnya dia. Karena setelah bertahun-tahun aku memperhatikannya, tak pernah ada kesempatan untukku mengetahui namanya. Bukan. Bukan tak ada kesempatan. Aku memang menyengajakan diri untuk tak ingin tahu siapa namanya. Tapi bukan Laila namanya, jika bukan dia. Maksudku, nama dia adalah Laila Al Ghazali. Panggilannya Lail. Tak ada yang tak mengenalnya. Meskipun belum tentu Lail mengenal mereka balik. Dia wanita tercantik sejagad. Namun, kecantikkan Emakku tak kalah meskipun di wajah emak sudah banyak ditinggali keriput. Lail lebih dari sekedar ratu kampus. Dia cantik, pintar, anggun, ramah, ceria, segalanya. Semua gambaran wanita sempurna ada pada diri Lail. Entah apa yang ada di pikiranku, setiap aku melihatnya selalu merasa senang. Meskipun aku kurang nyaman dengan cara berpakaiannya. Lail senang berpakaian minim. Sudahlah, Lail tidak datang. Dan azan dzuhur sudah memaksaku menyudahi pikiranku tentang Lail. Ampun ya Allah, Lail bukanlah tandingan-Mu.
~
Dua hari aku tak melihat Lail.
~
Hari ini, aku tetap beraktifitas. Dan, aku melihatnya. Dia berjalan ke arah ku. Dia diapit teman-temannya yang juga tak kalah cantik. Juga didampingi laki-laki super yang biasa kulihat, Damian.
Oh, kami berpapasan. Tapi dia tak melirikku sama sekali. Lail, kita memang berbeda. Lihat, arah jalan kita saja berlainan. Oh, aku melihat sesuatu. Berlari kencang tak terkendali. Bukan. Itu mobil. Dan, pengemudinya adalah Nobert. Ya Allah… Nobert sama seperti aku. Begitu mengagumi si jelita Lalia Al Ghazali. Tapi aku hanya kerdil yang senang menyimpan perasaan dan kisahku untuk aku sendiri. Tapi Nobert, dia begitu gagah mengungkapkan rasa… mungkin rasa cintanya pada Lail. Tapi Lail lebih memilih Damian. Dan Nobert sangat marah. Dan dia, dengan caranya mengedarai mobil, dia mungkin berpikiran untuk… Membunuh Lail.
Benar, mobil itu mengarah pada gadis pujaanku. Oh, tidak. Lail bisa terbunuh.
Aku berlari sekuat aku mampu. Dan untuk pertama kali dalam hidupku aku menyentuh tangannya. Halus sekali. Aroma tubuhnya begitu wangi. Tak pernah terpikir olehku untuk bisa sedekat ini dengannya. Tapi aku harus segera menyudahinya. Dibelakangku mobil dengan kecepatan tinggi mengarah padaku dan juga Lail, sementara yang lain berjengit histeris dan mulai menyingkir menyelamatkan diri.
Aku ingin terus berada didekatnya. Mungkin akan menyenangkan jika kami mati bersama. Seperti Romeo dan Juliet. Ah, tapi Lail harus tetap hidup. Sebisaku ku dorong Lail ke trotoar. Dan aku…
~
Lail bahkan tak sempat atau memang tak ingat bahwa aku telah menjadi pahlawan dalam hidupnya. Ya Allah, Lail tak mau melihat aku. Wajahnya tegang. Dia dipapah oleh orang-orang yang begitu tulus menyayanginya. Termasuk Damian. Tapi, aku tidak suka. Aku sudah menolongnya. Bahkan Damian, ikut berlari menjauh ketika Lail hampir dijemput maut. Hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sungguh, kukira dia lelaki sejati. Ternyata aku salah.
Aku berlari mengejar Lail yang sudah aman berada di dalam mobil mewah Damian yang meluncur dengan pasti. Mungkin menuju rumah sakit untuk mengobati beberapa luka benturan ketika dia terjatuh di trotoar karena ku dorong untuk menyelamatkannya. Dan di tempat aku tadi berdiri menyelamatkan Lail, telah begitu banyak orang berkerumun melihat sesuatu. Dan aku harus tahu. Apa sesuatu itu?
Dan, oh, ya Allah… Itu seperti aku. Itu memang aku. Tergolek tak berdaya berlumuran darah di pinggir jalan. Tak ada seorang pun yang berani menyentuhku. Tapi ini aku. Itu juga aku. Atau… aku sudah mati?
Laila Al Ghazali.
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar